Laporkan Masalah

Praktik Ketubuhan dan Konstruksi Identitas Perempuan Muda Skena di Yogyakarta

Anindya Dwi Cahya, Desintha Dwi Asriani, S.Sos., M.A., Ph.D.

2026 | Skripsi | Sosiologi

Penelitian ini bertujuan memahami pengalaman ketubuhan perempuan muda dalam skena di Yogyakarta, terutama cara tubuh membentuk identitas, menghadapi relasi kuasa, serta mempertahankan kehadiran di ruang fisik dan digital. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi. Data diperoleh melalui wawancara mendalam semi-terstruktur terhadap empat informan, observasi pendukung, dan dokumentasi digital, kemudian dianalisis menggunakan tahapan Colaizzi yang mencakup bracketing, horizontalisasi, perumusan unit makna, pengelompokan tema, penyusunan deskripsi menyeluruh, dan member checking. Fenomenologi ketubuhan Merleau-Ponty digunakan sebagai perspektif utama, sedangkan Young, Butler, Massey, Puwar, Mahmood, dan Rettberg digunakan secara selektif untuk membaca pengalaman gender, ruang, agensi, dan representasi digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas skena terbentuk melalui pengalaman tubuh ketika memasuki ruang, membangun kebiasaan, memilih penampilan, serta merasakan penerimaan maupun ketidaknyamanan. Skena sebagai ruang alternatif tetap memuat gatekeeping, pengujian autentisitas, tatapan gender, penilaian terhadap tubuh, dan rasa aman yang bersifat kondisional. Para informan merespons batas tersebut melalui pemertahanan nilai, penyesuaian penampilan, penerimaan atas perubahan tubuh, pemilihan ruang yang lebih mendukung, dan penetapan batas dalam representasi diri di media sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa praktik ketubuhan mempertemukan tubuh, ruang, kuasa, dan agensi, sedangkan reaktivasi agensi tampak ketika kemampuan memilih dan menetapkan batas ditegaskan kembali secara sadar di tengah kondisi sosial yang masih membatasi.

This study examines the embodied experiences of young women in Yogyakarta’s skena by focusing on how the body shapes identity, encounters relations of power, and sustains presence across physical and digital spaces. The research employed a qualitative approach with a phenomenological design. Data were collected through semi-structured in-depth interviews with four informants, observations, and digital documentation, then analysed using Colaizzi’s stages of bracketing, horizontalization, formulation of meaning units, thematic clustering, exhaustive description, and member checking. Merleau-Ponty’s phenomenology of the lived body served as the main perspective, while Young, Butler, Massey, Puwar, Mahmood, and Rettberg were used to interpret gendered experience, space, agency, and digital representation. The findings show that skena identity is formed through bodily experiences of entering spaces, developing habits, choosing forms of appearance, and sensing acceptance or discomfort. Although regarded as an alternative space, the skena contains gatekeeping, authenticity testing, gendered gazes, bodily judgement, and conditional safety. The informants responded by maintaining values, adjusting appearance to context, accepting bodily transformation, choosing more supportive spaces, and setting boundaries in digital representation. The study concludes that embodied practice brings together body, space, power, and agency, while reactivated agency appears when the capacity to choose and establish boundaries is reaffirmed within restrictive social conditions.

Kata Kunci : praktik ketubuhan, perempuan muda, skena, ruang sosial, reaktivasi agensi

  1. S1-2026-504008-abstract.pdf  
  2. S1-2026-504008-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-504008-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-504008-title.pdf