PERAN PRODUSER DALAM FILM DOKUMENTER JALARAN SUKMA (2026): AKTUALISASI DIRI PENYANDANG DISABILITAS MELALUI JOGJA DISABILITY ARTS
Selma Rahmatul Azizah, Dr. Novi Kurnia, M.Si., M.A. ; Luhki Herwanayogi, S.I.P.
2026 | Skripsi | Ilmu Komunikasi
Melalui perjalanan Sukri Budi Dharma atau Butong Idhar, seorang seniman penyandang disabilitas yang tidak terlepas dari ekosistem komunitas seni Jogja Disability Arts (JDA), film dokumenter pendek Jalaran Sukma (2026) berupaya menghadirkan narasi disabilitas yang lebih setara dan bermartabat. Dengan menggunakan model sosial disabilitas sebagai lensa utama, film ini menempatkan penyandang disabilitas sebagai subjek yang aktif dan berdaya, bukan sebagai objek inspirasi atau belas kasihan. Adapun laporan ini mendokumentasikan proses produksi film tersebut dari perspektif produser selama periode Maret 2025 hingga Mei 2026. Produksi film ini menggunakan pendekatan dokumenter observasional dan ekspositori yang berjalan secara dinamis dan tidak linear. Produser menjalankan peran yang mencakup pengelolaan aspek sumber daya manusia dan nonsumber daya manusia, mulai dari pengembangan konsep, pelibatan subjek, pengelolaan anggaran, hingga strategi distribusi, dengan etika representasi sebagai benang merah di setiap tahapannya. Proses produksi ini menunjukkan bahwa peran produser dalam film dokumenter yang mengangkat isu kelompok rentan, seperti disabilitas, tidak sepenuhnya sama dengan dokumenter pada umumnya. Selain mencakup fungsi teknis dan manajerial, produser juga menanggung tanggung jawab etis yang lebih besar dalam setiap keputusan kreatif, termasuk dalam menjaga keseimbangan antara kehati-hatian etis dan kedalaman naratif.
Through the journey of Sukri Budi Dharma, also known as Butong Idhar, an artist with a disability who is deeply rooted in the Jogja Disability Arts (JDA) community, the short documentary Jalaran Sukma (2026) seeks to present a narrative of disability that is more equitable and dignified. Using a social model of disability as its primary lens, the film positions people with disabilities as active and empowered subjects, rather than as objects of inspiration or pity. This report documents the film’s production process from the producer’s perspective during the period from March 2025 to May 2026. The production employed an observational and expository documentary approach that unfolded dynamically and non-linearly. The producer’s role encompassed managing both human and non-human resources, from concept development and subject engagement to budget management and distribution strategies, with ethical representation serving as the guiding principle throughout every stage. This production process demonstrates that the role of a producer in documentary films addressing issues related to vulnerable groups, such as people with disabilities, is not entirely the same as in documentaries in general. In addition to technical and managerial responsibilities, producers also bear greater ethical responsibilities in every creative decision, including maintaining a balance between ethical sensitivity and narrative depth.
Kata Kunci : Aktualisasi Diri, Disabilitas, Etika Representasi, Film Dokumenter, Produser