Laporkan Masalah

Beksan Aji Saka Yasandalem Sri Sultan Hamengku Buwono X: Rajutan Pusaka, Sasmita dan Mantra

Danu Anggada Bimantara, Dr. G.R. Lono L. Simatupang, M.A dan Prof. Dr. RM. Pramutomo, M. Hum

2026 | Tesis | S2 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa

Penelitian ini mengkaji Beksan Aji Saka yasan ndalem Sri Sultan Hamengku Buwono X: Kontekstualitas Rajutan Pusaka, Sasmita, dan Mantra sebagai teks spiritualitas kebudayaan dalam konteks tatanan Kasultanan Yogyakarta. Karya tari ini merepresentasikan nilai-nilai moral, sosial, dan spiritual yang berpijak pada ajaran “Sangkan Paraning Dumadi.” Latar belakang penelitian berangkat dari pengalaman reflektif penulis sebagai penari dalam Beksan Aji Saka, yang menumbuhkan kesadaran terhadap makna spiritual dan simbolisme penciptaannya oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X. Tujuan penelitian ini adalah memahami bentuk penyajian, struktur makna, serta relevansi spiritualitas kebudayaan yang terepresentasBeksan Aji Saka sebagai manifestasi otoritas estetik yasan ndalem dan pusaka Kasultanan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi humanisme-historis Merleau-Ponty yang dipadukan dengan hermeneutika Gadamer, serta diperkuat perspektif kritik seni pertunjukan sebagai alat analisis evaluatif. Data dikumpulkan melalui studi literatur, observasi langsung, dan wawancara dengan pelaku serta narasumber di lingkungan Karaton Yogyakarta. Landasan teori meliputi estetika Joged Mataram, konsep hermeneutika, dan pendekatan intertekstual yang menghubungkan Serat Aji Saka dengan konteks penciptaan beksan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Beksan Aji Saka tidak sekadar tontonan artistik, tetapi juga tuntunan spiritual yang mengandung pesan peradaban tentang harmoni manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. Kehadirannya menjadi media revitalisasi nilai-nilai kebudayaan Jawa yang meneguhkan identitas Kasultanan Yogyakarta sebagai pusat spiritualitas, budaya, dan kekuasaan di era modern. Temuan ini menegaskan kontekstuali Beksan Aji Saka sebagai pusaka, sasmita, dan mantra Karaton Yogyakarta.


Beksan Aji Saka yasan ndalem Sri Sultan Hamengku Buwono X: The Contextual Weaving of Heritage, Symbol, and Mantra as a cultural spirituality text within the framework of the Yogyakarta Sultanate’s civilization. This court dance represents moral, social, and spiritual values rooted in the Javanese philosophical teaching of Sangkan Paraning Dumadi (“the origin and purpose of existence”). The research originates from the author’s reflective experience as a performer of Beksan Aji Saka, which fostered an awareness of its spiritual significance and symbolic meaning as envisioned by Sri Sultan Hamengku Buwono X. The study aims to understand the form of presentation, structural meaning, and cultural-spiritual relevance embodied in Beksan Aji Saka as an aesthetic manifestation of yasandalem and a royal heritage (pusaka). Employing a qualitative approach, the research integrates Merleau-Ponty’s phenomenology of historical humanism with Gadamer’s hermeneutics, further sharpened through performance art criticism as an evaluative analytical lens. Data were collected through literature studies, direct observation, and interviews with practitioners and informants within the Yogyakarta Palace. The theoretical framework includes the aesthetics of Joged Mataram, hermeneutic interpretation, and intertextual analysis linking the Serat Aji Saka text with the creation context of the dance. Findings indicate that Beksan Aji Saka functions not merely as an artistic spectacle but as a spiritual guide conveying messages of harmony among human beings, nature, and the Divine. Its existence revitalizes Javanese cultural values while reaffirming the Yogyakarta Sultanate’s role as a center of spirituality, culture, and power in the modern era.

Kata Kunci : Beksan Aji Saka, Spiritualitas Kebudayaan, Hermeneutika, Yasandalem, Karaton Yogyakarta.

  1. S2-2026-527239-abstract.pdf  
  2. S2-2026-527239-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-527239-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-527239-title.pdf