Persistensi Peran Ganda Perempuan Jawa dalam Film Budi Pekerti (2023): Analisis Wacana Kritis Sara Mills
Kinanthi Raras Satuti, Budi Irawanto, M.A., Ph.D.
2026 | Tesis | S2 Ilmu Komunikasi
Pergeseran peran yang ditanggung perempuan masih menjadi isu relevan dalam kajian budaya kontemporer, khususnya pada perempuan Jawa yang kerap menghadapi ketegangan antara nilai tradisional dan tuntutan modernitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji persistensi peran ganda perempuan Jawa dalam film Budi Pekerti (2023) sebagai praktik representasi yang terikat pada reproduksi nilai budaya dan relasi kuasa. Meskipun fokus penelitian bukan dari tema utama, film Budi Pekerti (2023) memunculkan narasi persistensi peran ganda perempuan melalui karakter utamanya, Bu Prani. Penelitian ini menggunakan metode Analisis Wacana Kritis oleh Sara Mills dengan fokus pada subject-object position dan reader's position pada level kata, kalimat, dan wacana. Unit analisis meliputi dialog, adegan, serta konstruksi visual Bu Prani. Analisis dalam film dipadukan dengan teori representasi, konsep second shift, ibuisme negara, male gaze, serta reproduksi sosial. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa film Budi Pekerti (2023) membingkai perempuan Jawa sebagai subjek yang tampak berdaya di ruang publik, tetapi secara diskursif tetap ditempatkan sebagai objek moral yang bertanggung jawab atas stabilitas domestik dan citra sosial keluarga, termasuk dalam ruang digital. Melalui karakter Bu Prani, penonton diarahkan untuk menerima oeran ganda tersebut sebagai kewajiban kultural, seperti nrimo, gemati, dan paribasan "Yen awan dadi theklek, yen bengi dadi lemek." Dengan demikian, film ini berperan dalam mereproduksi wacana ideologis yang menempatkan perempuan Jawa sebagai penjaga harmoni sekaligus penanggung jawab utama beban sosial.
The shifting roles borne by women remain a relevant issue in contemporary cultural studies, particularly for Javanese women who often navigate tensions between traditional values and the demands of modernity. This study aims to examine the persistence of Javanese women’s dual roles in Budi Pekerti (2023) as a representational practice embedded in the reproduction of cultural values and power relations. Although not the film’s primary theme, Budi Pekerti (2023) presents an ongoing narrative of women’s dual roles through its main character, Bu Prani. This research employs Critical Discourse Analysis by Sara Mills, focusing on subject–object positions and reader positions at the levels of words, sentences, and discourse. The units of analysis include dialogue, scenes, and the visual construction of Bu Prani. The analysis is informed by representation theory, the concept of the second shift, state ibuism, the male gaze, and social reproduction theory. The findings reveal that Budi Pekerti (2023) frames Javanese women as subjects who appear empowered in the public sphere, yet discursively positions them as moral objects responsible for maintaining domestic stability and family reputation, including within digital spaces. Through Bu Prani, viewers are guided to accept this double burden as a cultural obligation, reflected in values such as nrimo, gemati, and the proverb “Yen awan dadi theklek, yen bengi dadi lemek.” Thus, Budi Pekerti (2023) film contributes to the reproduction of an ideological discourse that situates Javanese women as guardians of harmony and primary bearers of social responsibility.
Kata Kunci : Feminisme, Film, Peran Ganda, Representasi, Wacana Kritis