Laporkan Masalah

Iluminasi dalam Babad Giyanti (Babad Kartasura - Sokawati) SK 49 Koleksi Museum Sonobudoyo dalam Perspektif Hermenutika Paul Ricoeur

Erlin Aryulita, Dr. Sri Ratna Saktimulya, M.Hum.

2026 | Tesis | S2 Sastra


Babad Giyanti merupakan salah satu kronik sejarah Jawa yang merekam peristiwa penting bagi Kraton Surakarta, Kraton Yogyakarta dan Kadipaten Mangkunegaran. Intrik politik perebutan takhta di Kraton Kartasura yang diceritakan dalam babad tersebut menjadi topik yang menarik di abad ke-18, dibuktikan dengan banyaknya salinan naskah Babad Giyanti yang salah satunya adalah naskah Babad Giyanti (Babad Kartasura-Sokawati) Sk 49 koleksi Museum Sonobudoyo.

Iluminasi yang terlukis di setiap halaman naskah Babad Giyanti (Kartasura-Sokawati) SK 49 pada penelitian ini, dianalisis dengan metode filologi modern dan hermeneutika Paul Ricoeur. Naskah SBG SK 49 (484 halaman, 48 iluminasi) menjadi sumber utama untuk menelusuri makna simbolik di balik tiga jenis iluminasi: rubrikasi, wedana renggan, dan wedana gapura renggan. Melalui struktur tiga tahap dialektis Paul Ricoeur yang dielaborasikan dengan semiotika menunjukkan bahwa, seluruh unsur visual iluminasi menonjolkan Pangeran Arya Mangkubumi sebagai tokoh sentral. Iluminasi-iluminasi yang ditemukan muncul tepat pada episode yang melibatkan perjuangan, legitimasi, dan penobatannya menjadi Pakubuwana I. Gradasi warna merah-biru menandakan perebutan tanah Sokawati antara Jawa-Belanda. Lingkaran berwarna emas, bulan sabit, dan bangunan beratap tajug, menandai wahana spiritual raja dan pangeran, sedangkan merak, sawat, dan songsong menandai kehadiran raja dan Pangeran Arya Mangkubumi. Ornamen benda teknologis jenis bangunan lengkap dengan pohon beringin yang tersusun menjadi wedana gapura renggan merepresentasikan arsitektur bangunan Kraton Yogyakarta di tahun 1800-an setelah pemugaran, dan masih berpedoman pada aspek spiritual. Iluminasi dengan demikian sekaligus menyingkap rekam budaya pada masa Hamengkubuwana VI (1873-1874 M) yang menafsirkan kembali legitimasi Mangkubumi serta politik memori, guna memperkuat identitas dinasti Kasultanan Yogyakarta. Kajian ini memperluas pemahaman babad sebagai artefak historis-literer yang senantiasa direproduksi maknanya melalui praktik visual.


The Babad Giyanti is one of the Javanese historical chronicles that records a pivotal event for the Surakarta Palace, the Yogyakarta Palace, and the Duchy of Mangkunegaran. The political intrigue surrounding the struggle for the throne in the Kartasura Palace, as narrated in the chronicle, became a compelling topic in the 18th century, evidenced by the numerous manuscript copies of the Babad Giyanti. One such copy is the Babad Giyanti (Babad Kartasura-Sokawati) SK 49 manuscript from the Sonobudoyo Museum collection.

The illuminations painted on every page of the Babad Giyanti (Kartasura-Sokawati) SK 49 manuscript are analyzed in this study using modern philological methods and Paul Ricoeur’s hermeneutics. The SBG SK 49 manuscript (484 pages, 48 illuminations) serves as the primary source to trace the symbolic meanings behind three types of illumination: rubrication, wedana renggan, and wedana gapura renggan. Through Ricoeur’s three-stage dialectical structure, elaborated with semiotics, it is revealed that all visual elements of the illuminations highlight Prince Arya Mangkubumi as the central figure. The illuminations appear precisely at episodes involving his struggle, legitimation, and coronation as Pakubuwana I. The red-blue color gradation signifies the contest over the Sokawati lands between the Javanese and the Dutch. Golden circles, crescent moons, and buildings with tajug roofs mark the spiritual vehicles of the king and prince, while peacocks, sawat, and ceremonial umbrellas signify the presence of the king and Prince Arya Mangkubumi. Ornaments of technological objects in the form of complete buildings accompanied by beringin trees, arranged as wedana gapura renggan, represent the architectural design of the Yogyakarta Palace in the 1800s after its restoration—still guided by spiritual aspects. Thus, the illuminations simultaneously reveal cultural records from the reign of Hamengkubuwana VI (1873–1874), who reinterpreted Mangkubumi’s legitimacy and memory politics to strengthen the dynastic identity of the Yogyakarta Sultanate. This study expands the understanding of babad as a historical-literary artifact whose meaning is continually reproduced through visual practices.

Kata Kunci : Babad Giyanti, Iluminasi, Hermeneutika, Paul Ricoeur

  1. S2-2026-530605-abstract.pdf  
  2. S2-2026-530605-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-530605-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-530605-title.pdf