Laporkan Masalah

FENOMENA GARASU TENJOU DALAM DRAMA WARU: HATARAKU NO GA KAKKO WARUI NANTE DARE GA ITTA? KARYA SUTRADARA NAGUMO SEIICHI DAN UCHIDA HIDEMI: KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA IAN WATT

Gayatri Dyah Paramesti Lituhayu, Drs. Deddy Hernandy Oekon, M.Hum.

2026 | Skripsi | SASTRA JEPANG

Drama Waru: Hataraku no ga Kakko Warui Nante Dare ga Itta? atau yang biasa disingkat Waru menceritakan tentang perjalanan Tanaka Maririn untuk mencapai kemajuan karir. Dalam proses untuk mencapai kemajuan karir, Tanaka banyak menjumpai hambatan-hambatan tak terlihat yang dialami pekerja perempuan karena patriarki masih tertanam kuat di lingkungan kerjanya. Hambatan-hambatan tak terlihat yang dihadapi oleh perempuan dan kelompok minoritas lainnya ketika mencoba untuk mendapatkan posisi yang lebih tinggi dalam hierarki perusahaan yang didominasi oleh laki-laki disebut glass ceiling atau garasu tenjou.

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui tema dan fakta cerita drama Waru, realitas ketidaksetaraan gender dan fenomena garasu tenjou di Jepang, dan bagaimana fenomena garasu tenjou digambarkan dalam drama Waru. Penelitian ini menggunakan teori fiksi Robert Stanton untuk menganalisis tema dan fakta cerita. Teori sosiologi sastra Ian Watt juga digunakan untuk menganalisis realitas sosial mengenai ketidaksetaraan gender dan fenomena garasu tenjou di Jepang, serta fenomena garasu tenjou yang digambarkan dalam drama Waru.

Hasil dari penelitian ini adalah terdapat kemiripan antara fenomena garasu tenjou yang terjadi dalam dunia kerja di Jepang dengan fenomena garasu tenjou yang digambarkan dalam drama. Drama Waru menggambarkan hambatan-hambatan yang dialami pekerja perempuan di Jepang, seperti kurangnya rasa percaya diri perempuan untuk menjadi pemimpin, stereotip dan diskriminasi gender, jaringan old boy, pelecehan seksual, dan beban ganda yang dialami perempuan. Sedikitnya persentase perempuan dalam posisi manajerial sebagai dampak dari garasu tenjou juga digambarkan dalam drama Waru.

The drama Waru: Hataraku no ga Kakko Warui Nante Dare ga Itta? or commonly referred to as Waru depicts the journey of Tanaka Maririn in pursuing career advancement. Throughout this process, Tanaka encounters numerous invisible barriers faced by female workers, as patriarchal values remain deeply rooted in her workplace. These invisible barriers that women and other minority groups face when attempting to attain higher positions in a male-dominated corporate hierarchy are referred to as the glass ceiling or garasu tenjou.

The purpose of this study is to analyze the themes and story facts of the drama Waru, to identify the realities of gender inequality and garasu tenjou in Japan, and to analyze how the garasu tenjou is depicted in the drama. This study employs the theory of fiction by Robert Stanton to analyze the theme and story facts and Ian Watt’s theory of literary sociology to analyze the social realities of gender inequality and the garasu tenjou in Japan, as well as its representation in Waru.

The results of this study reveal a resemblance between the garasu tenjou phenomenon occurring in Japanese workplaces and the one portrayed in the drama. Waru illustrates various barriers experienced by female workers in Japan, such as women’s lack of confidence to become leaders, gender stereotypes and discrimination, the old boy network, sexual harassment, and the double burden women face. The low percentage of women in managerial positions as a consequence of the garasu tenjou is also reflected in the drama Waru.

Kata Kunci : sosiologi sastra, ketidaksetaraan gender, glass ceiling, garasu tenjou.

  1. S1-2026-474857-abstract.pdf  
  2. S1-2026-474857-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-474857-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-474857-title.pdf