Perspektif Feminis dalam Praktik Kuratorial Alia Swastika studi kasus Pameran Ranah/Tanah dan Sido Ngroso Sido Nglakoni
Shalihah Ramadhanita, Dr. Wiwik Sushartami, M.A. ; prof Drs., Martinus Dwi Marianto, MFA, Ph.D.
2025 | Tesis | S2 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa
Praktik pameran seni berbasis feminisme di Indonesia sering kali mengadopsi pendekatan kuantitatif yang mengutamakan partisipasi numerik tanpa memperhatikan kedalaman narasi dan konsep karya. Meskipun pendekatan ini dapat meningkatkan partisipasi seniman perempuan, praktik tersebut berpotensi menimbulkan eksploitasi simbolis. Untuk mengatasi hal ini, peran kurator menjadi krusial dalam memastikan pameran seni memiliki narasi dan konsep yang mendalam. Alia Swastika, seorang kurator independen di Indonesia, dipilih sebagai subjek penelitian karena perannya yang signifikan dalam mengadvokasi perspektif feminisme melalui praktik kuratorialnya.
Tujuan penelitian ini untuk: (1) menganalisis praktik kuratorial Alia Swastika, dan (2) mengkaji penerapan perspektif feminisme dalam praktik tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan interdisipliner dengan menggabungkan studi feminisme dan kuratorial untuk menganalisis bagaimana perspektif feminisme diterapkan dalam praktik kuratorial Alia Swastika serta bagaimana praktik tersebut dapat membangun wacana transformatif yang memberdayakan. Studi kasus dilakukan pada dua pameran tunggal dari 42 pameran yang telah dikurasi oleh Alia Swastika. Objek material penelitian ini adalah praktik kuratorial Alia Swastika, sedangkan objek formalnya adalah analisis perspektif feminisme terhadap praktik tersebut dan wacana gender. Fokus penelitian terletak pada bagaimana teori feminisme diwacanakan dalam kuratorialnya. Temuan penelitian Praktik kuratorial Alia Swastika dalam kedua pameran ini menunjukkan bahwa pendekatan feminis tidak hanya terletak pada pemilihan tema atau seniman perempuan, tetapi pada seluruh proses kuratorial mulai dari riset, kolaborasi, hingga presentasi. Alia berhasil menciptakan pameran yang tidak hanya memamerkan karya, tetapi juga membuka ruang untuk dialog reflektif tentang pengalaman perempuan dalam konteks sosial-politik Indonesia. Dengan memadukan metode desain thinking dan perspektif feminis, ia membuktikan bahwa kuratorial dapat menjadi alat untuk advokasi, produksi pengetahuan, dan transformasi wacana seni rupa di Indonesia.
Praktik pameran seni berbasis feminisme di Indonesia sering kali mengadopsi pendekatan kuantitatif yang mengutamakan partisipasi numerik tanpa memperhatikan kedalaman narasi dan konsep karya. Meskipun pendekatan ini dapat meningkatkan partisipasi seniman perempuan, praktik tersebut berpotensi menimbulkan eksploitasi simbolis. Untuk mengatasi hal ini, peran kurator menjadi krusial dalam memastikan pameran seni memiliki narasi dan konsep yang mendalam. Alia Swastika, seorang kurator independen di Indonesia, dipilih sebagai subjek penelitian karena perannya yang signifikan dalam mengadvokasi perspektif feminisme melalui praktik kuratorialnya.
Tujuan penelitian ini untuk: (1) menganalisis praktik kuratorial Alia Swastika, dan (2) mengkaji penerapan perspektif feminisme dalam praktik tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan interdisipliner dengan menggabungkan studi feminisme dan kuratorial untuk menganalisis bagaimana perspektif feminisme diterapkan dalam praktik kuratorial Alia Swastika serta bagaimana praktik tersebut dapat membangun wacana transformatif yang memberdayakan. Studi kasus dilakukan pada dua pameran tunggal dari 42 pameran yang telah dikurasi oleh Alia Swastika. Objek material penelitian ini adalah praktik kuratorial Alia Swastika, sedangkan objek formalnya adalah analisis perspektif feminisme terhadap praktik tersebut dan wacana gender. Fokus penelitian terletak pada bagaimana teori feminisme diwacanakan dalam kuratorialnya. Temuan penelitian Praktik kuratorial Alia Swastika dalam kedua pameran ini menunjukkan bahwa pendekatan feminis tidak hanya terletak pada pemilihan tema atau seniman perempuan, tetapi pada seluruh proses kuratorial mulai dari riset, kolaborasi, hingga presentasi. Alia berhasil menciptakan pameran yang tidak hanya memamerkan karya, tetapi juga membuka ruang untuk dialog reflektif tentang pengalaman perempuan dalam konteks sosial-politik Indonesia. Dengan memadukan metode desain thinking dan perspektif feminis, ia membuktikan bahwa kuratorial dapat menjadi alat untuk advokasi, produksi pengetahuan, dan transformasi wacana seni rupa di Indonesia.
Kata Kunci : Feminisme, Kuratorial, Alia Swastika