WASTRA NUSANTARA, HIBRIDITAS DAN AMBIVALENSI: STUDI KASUS BUKU PREDIKSI TREN MODE INDONESIA TAHUN (2020-2023)
Dharajatya Tri Paramatatwa, Dr. Budi Irawanto, S.IP., M.A.; Dr. phil. Vissia Ita Yulianto
2025 | Tesis | S2 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa
Wastra Nusantara atau tekstil
tradisional Indonesia dalam tren mode akhir-akhir ini merupakan hasil dari
upaya prediksi tren mode Indonesia yang mengadaptasi serta mengkolaborasikan
kearifan lokal dengan tren, pengetahuan, nilai, estetika, hingga teknik mode
Barat secara terus-menerus. Hibrida antara hal-hal tersebut mungkin akan
menimbulkan ambivalensi yang membingungkan identitas mode Indonesia. Melalui
kerangka semiotika dan The Language of Fashion dari Roland Barthes,
serta hibriditas dan ambivalensi dari Homi K. Bhabha, penelitian ini bertujuan
untuk menemukan makna denotasi dan konotasi dibalik data citra dan tulisan mode
dalam prediksi tren The New Beginning
21/22, Co-exist 23/24 dan Resilient 24/25. Penelitian ini menggunakan
metode kualitatif dengan pendekatan semiotika dan studi kasus. Pendekatan
semiotik membantu menganalisis simbol dan makna di balik data prediksi tren,
sedangkan pendekatan studi kasus membantu menciptakan penelitian yang holistik.
Indonesia Trend
Forecasting
atau Fashion Trend Forecasting
menggabungkan wastra Nusantara dengan skema prediksi tren serta pengetahuan
mode Barat untuk membantu desainer lokal bersaing di pasar global. Penggabungan
tersebut dipandang sebagai hibriditas yang menyamarkan nilai-nilai kelokalan
pada wastra Nusantara dalam bentuk estetika mode Barat. Hibriditas tersebut
menimbulkan ambivalensi di mana mode menjadi alat emansipatoris untuk wastra
agar tetap relevan dengan lintas generasi walaupun mengalami pemiskinan makna
tradisi, sementara di sisi lain mode menjadi alat bagi wastra untuk dapat
mengguncang relasi kuasa pusat mode Barat.
Wastra Nusantara or traditional
Indonesian textiles in recent fashion trends are the result of Indonesian
fashion trend forecasts that adapt and collaborate local wisdom with trends,
knowledge, values, aesthetics, and Western fashion techniques continuously. The
hybrid between these aspects may cause ambivalence that confuses the identity
of Indonesian fashion. Through the semiotic framework and fashion language of
Roland Barthes, as well as hybridity and ambivalence of Homi K. Bhabha, this
study aims to find the meaning of denotation and connotation behind the fashion
image and fashion writing data in the trend forecasts entitled The New
Beginning 21/22, Co-exist 23/24 and Resilient 24/25. This study used a
qualitative method with a semiotic approach and case study. The semiotic
approach helps analyze the symbols and meanings behind the trend prediction
data, while the case study approach helps create holistic research.
Indonesia Trend Forecasting or
Fashion Trend Forecasting combines wastra Nusantara with trend forecast schemes
and Western fashion knowledge to help local designers compete in the global
market. The integration of both aspects is seen as a hybridity that disguises
local values ??in
wastra Nusantara in the form of Western fashion aesthetics. This hybridity
creates ambivalence where fashion becomes an emancipatory tool for wastra to
remain relevant across generations despite the impoverishment of traditional meaning,
while on the other hand fashion becomes a tool for textiles to be able to
contest the power relations of Western fashion capital.
Kata Kunci : wastra Nusantara, prediksi tren mode, semiotika, hibriditas, ambivalensi