MANIFESTASI "NGRUWAT" PADA JOGED IMPUR ALUS WAYANG WONG DALAM PUSARAN KEKUASAAN KASULTANAN NGAYOGYAKARTA HADININGRAT
I Made Christian Wiranata Rediana, Rachmad Hidayat, Ph.D. ; Dr. Bambang Pudjasworo, S.S.T.,M.Hum.
2025 | Tesis | S2 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa
Kekuasaan dalam ranah kebudayaan Jawa termanifestasikan dalam salah satu aspek yaitu seni pertunjukan. Karaton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai pemegang kekuasaan menghadirkan seni pertunjukan wayang wong dengan segala instrumen yang dapat membangun citra penguasa dan otoritasnya. Joged impur sebagai salah satu instrumen dalam wayang wong terkena dampak dari kekuasaan secara diskursif. Diskursus impur ditemui secara paradoks antara yang harfiah dan estetis. Penelitian ini hendak meninjau bagaimana bentuk manifestasi terhadap diskursus joged impur alus dalam pusara kekuasaan di Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis wacana kritis (critical discourse analysis) dan pengambilan data melalui webtografi dan studi pustaka. Pada studi berbagai pustaka, diskursus impur cenderung mengasosiaskan kepada kondisi tubuh yang abnormal dan pendeskripsian yang seba batil. Berbeda halnya impur sebagai joged, diskursus ini mengarahkan kepada suatu ragam gerak yang mengakomodasi tokoh-tokoh luhur berstatus ksatria, pendeta, dan dewata. Penelitian ini menghasilan suatu temuan bahwa penguasa Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat melakukan proses manifestasi yang disebut sebagai ngruwat. Manifestasi ini berdampak pada transformasi diskursus yang pada awalnya dianggap batil menjadi suatu hal yang ideal dan mengakomodasi entitas luhur.
Power within
the realm of Javanese culture is manifested in various aspects, one of which is
the performing arts. The Royal Palace of the Yogyakarta Sultanate (Karaton
Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat), as the holder of political and cultural
authority, presents the wayang
wong performance as a medium to construct and reinforce the image
and legitimacy of its rulership. Within this context, the joged ‘impur’—a
specific dance element in ‘wayang
wong’—is discursively
influenced by the dynamics of power. The discourse surrounding impur presents a
paradox, navigating between the literal and the aesthetic.This study aims to
examine the manifestations of the joged
impur alus discourse within the domain of power in the Yogyakarta
Sultanate. It employs a critical discourse analysis (CDA) approach, with data
collected through webtography and literature review. In various textual
sources, the impur
discourse is often associated with abnormal bodily conditions and portrayed in
a negative or deviant light. However, when framed within the context of dance, impur emerges as a
repertoire of movements that embodies noble figures such as knights, priests,
and deities. The study finds that the Yogyakarta Sultanate has engaged in a
process of manifestation known as ‘ngruwat’—a
ritual or symbolic act of purification and transformation. This manifestation
contributes to a discursive shift in which the previously stigmatized or
marginal ‘impur’ is redefined as an idealized form that
accommodates and legitimizes noble entities.
Kata Kunci : Kekuasaan, wayang wong, joged impur