DEKONSTRUKSI MALE GAZE DALAM SENI RUPA MELALUI SENI LUKIS WAYANG KAMASAN: STUDI KASUS SENI LUKIS CITRA SASMITA
Haniatussa'adah, Prof. Drs. M. Dwi Marianto, MFA., Ph.D.; Dr. Wiwik Sushartami, M.A.
2025 | Tesis | S2 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa
Seni lukis wayang Kamasan merupakan seni lukis tradisional yang berkembang di Desa Kamasan, Klungkung, Bali dengan pakem pelukisan yang masih berlangsung secara turun-temurun hingga saat ini. Citra Sasmita adalah seniman perempuan Bali yang dalam pemvisualisasian karyanya mengadopsi gaya lukisan Kamasan namun dengan wacana feminis. Tujuan utama penelitian ini adalah menganalisis bagaimana Citra Sasmita mendekonstruksi paradigma male gaze dan makna patriarkal dalam seni lukis wayang Kamasan dan budaya di Bali. Dengan menggunakan jenis penelitian analisis-kualitatif dengan pendekatan etnografi dan semiotika, kajian ini memadukan teori metafora dan semiotika Roland Barthes, teori dekonstruksi Jacques Derrida, dan teori semiotika feminis Julia Kristeva untuk membaca makna visual dan simbolis dalam dua subjek utama: lukisan Timur Merah Project I: The Embrace of My Motherland oleh Citra Sasmita dan lukisan klasik Kamasan Bhima Swarga, serta memahami mengenai pembentukan kosmologi karya Citra Sasmita.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Citra Sasmita melakukan dekonstruksi secara visual, nilai, metode, sejarah, maupun spiritual dan politik, dengan cara membalik simbol dan makna gender yang terkandung dalam narasi seni lukis klasik Kamasan. Ia memosisikan tubuh perempuan sebagai subjek utama dan pusat narasi, sekaligus mengkritik konstruksi ideologis male gaze dalam seni lukis Kamasan. Selain itu, Citra Sasmita merekonstruksi makna baru yang lebih inklusif dan berpihak pada agensi perempuan, serta menciptakan wacana seni rupa neo-tradisionalisme yang bersifat transformatif dan kritis. Dengan demikian, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa seni lukis klasik tradisional bukanlah objek statis, melainkan medan perlawanan dan negosiasi makna, di mana pembacaan feminis dan dekonstruksi mampu membuka ruang pembaruan wacana dan pembebasan visual.
Kamasan wayang painting is a traditional art form that developed in Kamasan Village, Klungkung, Bali, characterized by stylistic conventions that have been continuously preserved and transmitted across generations. Citra Sasmita is a Balinese female artist who, in visualizing her works, adopts the Kamasan painting style while incorporating a feminist discourse. The primary aim of this study is to analyze how Citra Sasmita deconstructs the paradigm of the male gaze and patriarchal meanings embedded within Kamasan wayang painting and Balinese culture. Employing a qualitative-analytical method with ethnographic and semiotic approaches, this research integrates Roland Barthes’ theories of metaphor and semiotics, Jacques Derrida’s deconstruction, and Julia Kristeva’s feminist semiotics to interpret the visual and symbolic meanings in two main subjects: Citra Sasmita’s painting Timur Merah Project I: The Embrace of My Motherland and the classical Kamasan painting Bhima Swarga, as well as to understand the formation of cosmology in Sasmita’s body of work.
The findings reveal that Citra Sasmita engages in a multifaceted deconstruction—visually, conceptually, methodologically, historically, spiritually, and politically—by inverting the gendered symbols and meanings embedded in the narratives of classical Kamasan painting. She repositions the female body as the central subject and narrative axis, while simultaneously critiquing the ideological construction of the male gaze inherent in Kamasan visual traditions. Furthermore, Citra Sasmita reconstructs a new, more inclusive meaning that centers female agency and introduces a discourse of neo-traditional art that is both transformative and critical. Thus, this study concludes that classical traditional painting is not a static object but a dynamic field of resistance and negotiation of meaning, in which feminist reading and deconstruction open space for discursive renewal and visual liberation.
Kata Kunci : Dekonstruksi, male gaze, seni lukis Kamasan, Citra Sasmita, semiotika feminis