AKU SI RAMBUT SINGA: STRATEGI PEREMPUAN BERAMBUT KERITING DALAM MENGHADAPI DOMINASI WACANA KECANTIKAN
Bella Ningtias Winda Pramasya, Dr. Suzie Handajani, M.A.
2024 | Skripsi | ANTROPOLOGI BUDAYA
Perempuan berambut keriting selama
ini hidup dibawah kungkungan mitos tentang standar kecantikan rambut. Standar
yang mendefinisikan bahwa rambut yang cantik adalah rambut hitam, panjang, dan
lurus. Di tengah dominasi wacana kecantikan yang melahirkan standar ideal ini,
perempuan berambut keriting harus menghadapi tekanan dari stigma hanya karena
kepemilikan rambutnya.
Dengan menggunakan pendekatan
kualitatif dan teori agen-struktur milik Giddens, penelitian ini mengeksplorasi
pengalaman dan persepsi perempuan berambut keriting terhadap kecantikan rambut
dalam konteks budaya dan sosial. Metode pengumpulan data melibatkan wawancara
mendalam dengan empat informan perempuan berambut keriting dari berbagai latar
belakang sosial dan ekonomi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perempuan berambut keriting mengembangkan berbagai strategi dalam menghadapi mitos kecantikan rambut. Strategi yang digunakan tidak dapat diprediksi secara mutlak karena setiap individu memiliki pengalaman, konteks, dan kapasitas yang berbeda. Keputusan mereka dalam memilih konformitas, resistensi, atau negosiasi akan mitos kecantikan rambut ternyata dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti lingkungan keluarga, teman, media, dan influencer.
Curly-haired women have long been
confined by the myths of hair beauty standards. These standards define that
beautiful hair must be long, black, and straight. Amidst the dominance of this
beauty discourse, curly-haired women confront the pressure of stigma merely due
to their hair ownership. Using a qualitative approach and Giddens
structuration theory of agency-structure, this research explores the
experiences and perceptions of curly-haired women regarding hair beauty within
cultural and social contexts. The data was collected through an in-depth
interviews method with four curly-haired women informants from various
socio-economic backgrounds. The
findings reveal that curly-haired women develop various strategies in navigating
hair beauty myths. The strategies employed cannot be predicted, as each
individual has different experiences, contexts, and capacities. Their decisions
in choosing conformity, resistance, or negotiation of the myths of hair beauty
are influenced by several factors such as family, environment, peer support,
media, and influencers.
Kata Kunci : Strategi, Hegemoni Kecantikan Rambut, Mitos Kecantikan Rambut