Hidup dalam Panggung: Gigs, Karier Subkultural dan Efek Pandemi Covid-19 Terhadap Ranah Musik Indie di Yogyakarta
Cahya Malikal Firdaus, Gregorius Ragil Wibawanto S.Sos., MAPS
2024 | Skripsi | Sosiologi
Musik indie di Yogyakarta yang identik
dengan ruang fisikal sebagai arena pertaruhan kapitalnya selama masa pandemi
mengalami pergeseran arena ke platform digital.
Pergeseran ruang tersebut melahirkan proses negosiasi yang dilakukan
oleh para pekerja dalam skena musik tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif
dengan pendekatan Fenomenologi, Melalui bingkai pertukaran kapital oleh Bourdie
akan digunakan untuk melihat bagaimana para pekerja subkultural tersebut dalam
melakukan proses negosiasi mereka mengahadapi pandemi.
Penelitian ini menemukan
sebuah daur ulang terhadap habitus kemandirian yang menjadi identitas para
pekerja subcultural di Yogyakarta. Ketidakhadiran negara dalam berbagai
aktivitas kultural mereka melahirkan sebuah kekuatan solidaritas yang membantu
mereka berjuang secara mandiri selama masa pandemi.
Indie music in Yogyakarta, which is
identical to physical space as an arena for capital stakes during the pandemic,
has experienced a shift in the arena to digital platforms. The shift in space gave birth to a negotiation
process carried out by workers in the music scene. This research uses a qualitative method with
a Phenomenological approach, through the frame of capital exchange by Bourdie
will be used to see how these subcultural workers carry out their negotiation
process in dealing with the pandemic.
This research found a recycling of the
habitus of independence that became the identity of subcultural workers in
Yogyakarta. The absence of the state in their various cultural activities gave
birth to a solidarity force that helped them fight independently during the
pandemic.
Kata Kunci : Musik, Skena Musik Indie Yogyakarta, Pekerja Musik Mandiri