Tinjauan Konsep Hasrat Deleuze-Guattari Pada Tokoh Frans Dalam Cerpen "Pengakuan Teater Palsu" Karya Afrizal Malna
MOKHSA IMANAHATU A, Dr. Septiana Dwiputri Maharani
2019 | Skripsi | S1 FILSAFATHasrat dalam pandangan umum sering dikonotasikan sebagai sebuah kualitas negatif yang ada di dalam diri manusia. Manusia dalam rangka memproduksi hasratnya dibatasi oleh berbagai halangan yang sangat kompleks, mulai dari tingkat paling primitif, despotis, sampai pada tingkat kapitalisme. Deleuze dan Guattari berupaya untuk mengembalikan hasrat ke keadaan asalinya sebagai energi kreatif, produktif, positif, revolusioner, dan skizofrenik. Tokoh Frans dalam cerpen Pengakuan Teater Palsu (2017) karya Afrizal Malna menjadi sosok yang menantang untuk dikaji menggunakan teori hasrat Deleuze-Guattari disebabkan oleh tiga hal. Pertama, kemampuan tokoh Frans dalam mengacak-acak tatanan sosial yang telah mapan. Kedua, tokoh Frans mengandung identitas yang beragam. Ketiga, tokoh Frans selalu melakukan percobaan atau pencarian terus-menerus terhadap berbagai kemungkinan yang dapat memenuhi kebutuhan hasratnya. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan. Objek material penelitian ini adalah prinsip-prinsip dan karakter tokoh Frans dalam cerpen Pengakuan Teater Palsu. Objek formal penelitian ini adalah konsep hasrat Deleuze-Guattari. Sumber primer penelitian ini adalah cerpen Pengakuan Teater Palsu karya Afrizal Malna dan Anti-Oedipus (1983) karya Deleuze-Guattari. Adapun penelitian ini menggunakan beberapa langkah metodis; inventarisasi, klasifikasi, reduksi data, dan diolah dengan menggunakan beberapa unsur metodis yaitu, deskripsi, interpretasi, dan koherensi internal. Hasil dari penelitian ini menunjukkan dua hal. Pertama, tokoh Frans mengandung prinsip eksistensialisme dan karakter peng-eksperimen, prinsip naturalis-gelandangan dan karakter gelandangan-pemikir, prinsip esensialis dalam mengumandangkan teater dan karakter aktor-kehidupan, prinsip longgar dalam aktivitas nilai tukar dan karakter cerdik. Kedua, hasil analisis terhadap tokoh Frans menggunakan konsep hasrat Deleuze-Guattari menunjukkan bahwa Frans hanya separuh berhasil dalam menggunakan hasratnya sesuai aturan yang ada pada connective synthesis dan disjunctive synthesis. Biografi Frans dapat dikatakan sepenuhnya berhasil dalam conjungtive synthesis.
Desire in the general view is often connoted as a negative quality that exists in humans psyche. Human in order to produce his desires is limited by a variety of very complex obstacles, ranging from the most primitive, despotic, to the level of capitalism. Deleuze and Guattari endeavor to return the desire to its original state as positive energy, productive, creative, revolutionary, and schizophrenic. The Figure of Frans in the short story Pengakuan Teater Palsu (2017) by Afrizal Malna became a challenging figure to study using the theory of Deleuze-Guattari's desires because of three things. First, the ability of Frans in making a mess of established social orders. Second, Frans's character contains a variety of identities. Third, Frans's character always conducts experiments or constant search for various possibilities that can fullfil the needs of his desires. This research was a literature research. The subject matter of this research is the principles and character of Frans in the short story Pengakuan Teater Palsu. The formal object of this research is the Deleuze-Guattari's concept of desire. The primary source of this research is Pengakuan Teater Palsu by Afrizal Malna and Anti-Oedipus (1983) by Deleuze-Guattari. This research uses several methodical steps; inventory, classification, data reduction, and processed using several methodical elements namely, description, interpretation, and internal coherence. The results of this study indicate two things. First, the figure of Frans contained the principle of existentialism and the character of the experimenter, the principle of naturalist-vagrant and character of the vagrant-thinker, the essentialist principle in echoing theater and actor-of-life character, the loose principle of exchange rate activity and clever character. Second, the analysis of Frans's character using the Deleuze-Guattari's concept of desire shows that Frans is only half successful in using his desires according to the rules in connective synthesis and disjunctive synthesis. Frans's biography can be said to be entirely successful in conjungtive synthesis.
Kata Kunci : Hasrat, Frans, Connective Synthesis, Disjunctive Synthesis, Conjungtive Synthesis