Pergeseran Beksan Serimpi Pandhelori dari Ruang Privat (Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat) ke Publik dan Strategi Reproduksi UKM Swagayugama
Rinadya Kartikasari Haryana, Drs. Soeprapto, S.U. ; Drs. Andreas S, M.S. ; Fuji Riang Prastowo, M.Sc.
2020 | Skripsi | S1 SOSIOLOGIKebudayaan populer kerap membuat budaya asli suatu daerah tergeser eksistensinya. Oleh karena itu, berbagai cara dilakukan dalam pengupayaan pelestarian dan pengembangan kesenian lokal daerah, khususnya Tari Klasik Gaya Yogyakarta. Beksan Serimpi Pandhelori merupakan salah satu budaya yang memerlukan pengupayaan pelestariannya salah satunya dengan reproduksi. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, dengan data yang didapatkan melalui observasi, wawancara, studi pustaka, dan dokumentasi. Pergeseran nilai tari klasik gaya Yogyakarta dikaji menggunakan teori simbol Clifford Geertz, sedangkan reproduksi Beksan Serimpi Pandhelori dikaji menggunakan teori modal Pierre Bourdieu. Pergeseran simbol-simbol yang ada pada Beksan Serimpi Pandhelori mengakibatkan bergesernya nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Sedangkan aktor dalam proses reproduksi tersebut memiliki modal budaya, modal sosial, modal ekonomi, dan modal simbolik yang mendukung proses reproduksi. Strategi reproduksi dilakukan dengan penggunaan simbol, penyampaian nilai dalam pementasan, dan uba rampe sesuai dengan pekemnya. Penelitian ini menunjukkan bahwa pergeseran Beksan Serimpi Pandhelori dari ruang privat (Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat) ke ruang publik yaitu UKM Swagayugama juga disertai dengan bergesernya nilai pada sebuah tarian. Pergeseran ini disebabkan karena adanya keinginan untuk mempertahankan eksistensi dan kelestarian tari klasik gaya Yogyakarta. Hal ini yang kemudian melatarbelakangi UKM Swagayugama dalam melakukan reproduksi Beksan Serimpi Pandhelori.
Popular culture often replace the existence of local culture. Therefore, various ways are done for preservation and developing local culture, especially Yogyakarta clasical dance. Serimpi Pandhelori dance is one of some local culture need to preserve and develop in reproduction. The aim of this research is to know about the reproduction strategy of Serimpi Pandhelori dance held by UKM Swagayugama. This is a descriptive qualitative research. The data collection done by interview, participatory observation, literature review, and documentation. The change of Serimpi Pandelori's value is being analyzed by the symbol theory of Clifford Geertz, whereas the reproduction strategy is being analyzed by Pierre Bourdieu's theory. The change of symbols on Serimpi Pandhelori dance caused the change of Serimpi Pandhelori dance's value. The actor have cultural capital, social capital, economic capital, and symbolic capital that supported the reproduction process. Reproduction strategy happen trough the use of symbols, values, and uba rampe that adjusted to the pakem. This research shows that the change of Serimpi Pandhelori dance from privat space (Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat) to public space that is UKM Swagayugama accompanied by the change of the value. This change caused by eagerness to maintain the existence of Yogyakarta classical dance. This is the reason why UKM Swagayugama held a reproduction of Serimpi Pandhelori dance.
Kata Kunci : Beksan Serimpi Pandhelori, Ruang Privat, Ruang Publik, Strategi Reproduksi, UKM Swagayugama/Serimpi Pandhelori Dance, Privat Space, Public Space, Reproduction Strategy, UKM Swagayugama