Laporkan Masalah

Konstruksi Difabel di Indonesia dan Malaysia dalam Karya Sastra: Analisis Dekonstruksi Foucault dalam Novel Layang-Layang Putus karya Masharto Al Fathi, Biola Tak Berdawai karya Seno Gumira Ajidharma dan Lambaian Kinabalu karya Norhashimah Hashim

MUKHANIF YASIN YUSUP, Dr. Supriyadi, M.Hum

2018 | Tesis | MAGISTER SASTRA

Jumlah penyandang difabel yang masih cukup signifikan dan posisinya yang marginal merupakan fenomena yang masih mendiami ruang struktur dan sosial di masyarakat, termasuk di kawasan Asia Tenggara. Dilatarbelakangi masih minimnya isu difabel yang diangkat dalam ranah disiplin keilmuan, khususnya kesusastraan, penelitian ini dilakukan untuk melihat sejauh mana konstruksi difabel digambarkan pengarang dalam karya sastra. Penelitian ini menggunakan sampel karya sastra jenis novel dari Indonesia dan Malaysia, yakni Layang-layang Putus karya Masharo Al Fathi dan Biola Tak Berdawai karya Seno Gumira Ajidharma dari Indonesia, serta Lambaian Kinabalu karya Norhashimah Hashim sebagai representasi dari Malaysia. Pemilihan karya sastra dari Indonesia dan Malaysia didasarkan pada keduanya memiliki kekerabatan atau rumpun bahasa yang sama. Penelitian ini menggunakan pendekatan posmodernisme dengan teori dekonstruksi yang dikembangkan Michel Foucault. Dekonstruksi yang dikembangkan Foucault adalah “penemuan kembali” yang merupakan analogi atau isomofrisme dengan bentuk-bentuk pengetahuan terkini yang memungkinkan persepsi figur-figur yang terlupakan atau tidak jelas dalam konstruksi yang baru dan berbeda. Dari pengembangan teori ini dihasilkan dari proses substitusi, pergeseran, tersembunyi, dan pemutarbalikkan yang sitematis. Jika selama ini konstruksi yang berkembang di masyarakat terkait difabel adalah sebagai tidak sehat, cacat, tidak normal, tidak mampu, tidak sempurna dan sebagai kutukan Tuhan hingga membentuk konstruksi difabel sebagai patologi sosial, tetapi dalam novel yang dianalisis penyandang difabel dikonstruksikan sebaliknya. Difabel dalam karya sastra yang dianalisis digambarkan sebagai individu yang sehat, tidak cacat, sempurna, mampu, normal, dan sama seperti non-difabel lain dalam hubungannya dengan Tuhan. Selain itu, keberadaan difabel, lewat tokoh Yoyok, Aina, Sarmin Pincang, dan lain-lain, menempatkan difabel tidak berada dalam posisinya sebagai sumber patologi sosial. Hal ini dikarenakan selain dapat mengurus dirinya sendiri, juga dapat memberikan perubahan bagi masalah sosial yang ada, salah satunya adalah masalah rendahnya serapan tenaga kerja bagi difabel yang berimplikasi pada pengangguran dan kemiskinan yang bersifat makro.

People with disabilities is the significant object had marginal position in society. It was a phenomenon in the social and structural community in the society, especially in Southeast Asia. The background was still the lack of disability issues that raised in the reality of scientific, like in the literature. This study was conducted to look for how far the construction of people with disabilities depicted author in the literature. The sample of this study were novel from Indonesia and Malaysia, those were Layang-Layang Putus by Masharo Al Fathi and Biola Tak Berdawai by Seno Gumira Ajidharma from Indonesia, and Lambaian Kinabalu by Norhashimah Hashim from Malaysia. It based on having the same language family; Malay. This study was used postmodernism approach, with deconstruction theory by Michel Foucault. The deconstruction of Michel Foucault was a "rediscovery" which was an analogy or isomoforism with the latest forms of knowledge that enabled the perception of forgotten or unclear figures in a new and different construction. This theory was resulted by the process of substitution, shifting, hidden, and systematic perversion. Currently, the construction that developed in society was as unhealthy, defective, abnormal, incompetent, imperfect and as God's curse to form a disability construct as a social pathology. Meanwhile, researcher would analyze people with disabilities constructed in the novel People with Disabilities in the literary works that researcher would analyze were described as a healthy person, not-defective, perfect, capable, normal, and like non-disabled persons in the relation to God. In addition, the existence of the people with disabilities, in the figures of Yoyok, Aina, Sarmin Pincang, and other figures, people with disabilities position was not as a source of social pathology. It because was being able to take care of itself, and it also could provide the changing of existing social problems. One of the problem was a low labor absorption for the people with disabilities that consequence on unemployment and poverty people.

Kata Kunci : Difabel, Konstruksi, Dekonstruksi, Cacat, Normal, Sempurna

  1. S2-2018-404365-abstract.pdf  
  2. S2-2018-404365-bibliography.pdf  
  3. S2-2018-404365-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2018-404365-title.pdf