SIMULASI DALAM HITOKARA: STUDI POSTMODERNISME TERHADAP FENOMENA HITOKARA DI JEPANG
NAJMAH AULIA P, Robi Wibowo., S.S., M.A.
2018 | Skripsi | S1 SASTRA JEPANGPenelitian ini adalah penelitian mengenai fenomena hitokara di Jepang. Hitokara adalah kegiatan berkaraoke seorang diri, sebuah kegiatan yang awalnya dipandang secara negatif tetapi seiring dengan perkembangannya menjadi lumrah dilakukan oleh siapa saja. Subjek penelitian adalah orang Jepang yang melakukan hitokara. Tujuan penelitan ini adalah untuk mengetahui bagaimana mekanisme simulasi dalam konsumsi hitokara di Jepang. Dalam pengumpulan data penulis mengambil pernyataan-pernyataan karaokis mengenai hitokara dari forum internet dan media sosial, serta iklan hitokara dari pengusaha karaoke. Data dikelompokkan menjadi nilai guna dan nilai tanda, kemudian dianalisis berdasarkan teori simulasi Jean Baudrillard. Dari hasil analisis diketahui bahwa konsumsi hitokara berada pada tingkat kedua dalam hierarki simulasi, yaitu ketika nilai tanda sudah menutupi dan menyesatkan realitas. Nilai tanda dalam hitokara menutupi nilai guna hitokara sehingga menyesatkan karaokis dalam konsumsi hitokara. Simulasi dalam hitokara tersebut beroperasi melalui bilik-bilik karaoke, media sosial, dan iklan.
This research investigates the phenomenon of hitokara in Japan. Hitokara means doing karaoke alone. It is an activity that initially seen as a negative activity, but hitokara has become commoner to be done by the public as it progressed. The subject of this research is Japanese who does hitokara. The aim of this research is to understand the mechanism of simulation within the consumption of hitokara in Japan. Data collected from karaokis' statements about hitokara in the internet forum and social media, also from the advertisement of hitokara by its entrepreneur. Data then classified into use-value and sign-value, to be analyzed with Jean Baurillard's simulation theory. The result shows that the consumption of hitokara is in the second level of the simulation hierarchy, it is when the sign already covered up and bent reality. The sign-value of hitokara covered its use-value then misleads karaokis in the consumption of hitokara. The simulation in hitokara operated by karaoke boxes, social media, and advertisements.
Kata Kunci : Karaoke, hitokara, simulasi, postmodernisme, masyarakat konsumsi/ Karaoke, hitokara, simulation, postmodernism, consumer society