petik dua MITOS petik dua SUPERHERO LOKAL kurung buka Analisis Semiotika Roland Barthes Identitas Superhero pada Film Gundala Putra Petir kurung buka 1982 kurung tutup dan Film Gundah Gundala kurung buka 2013 kurung tutup sebagai Kondisi Poskolonialitas kurung tutup
Marlyani Purbayanti, Budi Irawanti, M.A., Ph.D.
2017 | Tesis | S2 Ilmu KomunikasiSuperhero atau pahlawan dengan kekuatan super, belakangan menjadi salah satu topik yang banyak diperbincangkan di masyarakat. Kemunculan superhero di berbagai media baik berupa iklan, komik dan film dikemas secara menarik yang menjadi suguhan hangat bagi masyarakat. Semakin maraknya dengan kehadiran superhero asing atau global, seperti Superman, Batman, Iron Man dan Spiderman, seakan kemudian menghipnotis masyarakat Indonesia untuk larut kedalamnya. Ini kemudian menyebabkan superhero lokal tidak terdengar lagi gaungnya di Indonesia. Gundala Putera Petir menjadi salah satu sosok superhero lokal yang sudah cukup dikenal di masyarakat. Kemunculan awal dalam bentuk komik pada tahun 1969 kemudian divisualisasikan dalam bentuk film pada tahun 1982. Tidak berhenti sampai di situ, apresiasi terhadap sosok Gundala kemudian diwujudkan pula dalam bentuk film pendek komedi satyr Gundah Gundala pada tahun 2013. Menceritakan tentang gambaran kondisi poskolonial saat ini yang dikaitkan dengan film sebagai objeknya, peneliti tertark untuk meneliti representasi identitas superhero melalui film Gundala Putera Petir (1982) dan film Gundah Gundala (2013). Dengan menggunakan metode analisis semiotika Roland Barthes, peneliti mengkaitkan mitos dengan superhero dalam film. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa unsur modernitas dan lokalitas menjadi salah satu elemen yang berperan untuk mengetahui tentang gambaran kondisi poskolonialitas dalam kedua film tersebut.
Superhero, later became one of the topics that many discussed in the community. The more rampant with the presence of foreign or global superheroes, such as Superman, Batman, Iron Man and Spiderman, as if later hypnotized the people of Indonesia to dissolve into it. Gundala Putera Petir became one of the local superhero figure which is well known in the community. The initial appearance in the form of comics in 1969 then visualized in the form of a film in 1982. Later, the appreciation of the figure Gundala then realized also in the form of short satyr film Gundah Gundala in 2013. Telling about the picture of current postcolonial conditions that associated with the film as its object, terark researchers to examine the superhero identity representation through the film Gundala Putera Petir (1982) and the film Gundah Gundala (2013). Using Roland Barthes's semiotic analysis method, researchers associate myths with superheroes in films. From the results of the research can be seen that the elements of modernity and locality to be one element that plays to know about the picture of poscloniality conditions in both films.
Kata Kunci : Postcolonial, Superhero, Gundala, Film, Semiotics of Roland Barthes, Modernity, Locality