Laporkan Masalah

TRADISI BHANTI-BHANTI WAKATOBI: PEMENTASAN, FORMULA DAN KOMPOSISI SKEMATIKNYA

SUMIMAN UDU, S.PD., M.HUM., Prof. Heddy Shri Ahimsa-Putra, M.A., M.Phil.,Ph.D ;Dr. G.R. Lono Lastoro Simatupang, M.A.

2016 | Disertasi | S3 Sastra

Berbicara mengenai tradisi bhanti-bhanti Wakatobi, tidak dapat dilepaskan dari aspek pementasan dan teksnya. Pementasan tradisi bhanti-bhanti Wakatobi mengalami perubahan, seiring dengan perubahan masyarakat pendukungnya. Oleh karena itu, penelitian ilmiah sebagai landasan preservasi tradisi bhanti-bhanti Wakatobi harus dilakukan. Karena tradisi bhanti-bhanti bukan hanya hiburan, tetapi juga merupakan media komunikasi kultural yang mengandung nilai-nilai, moral, etika, sejarah, masyarakat pendukungnya. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori kelisanan Albert Bates Lord. Untuk mengaplikasi teori tersebut, maka digunakan dua paradigma, yaitu paradigma antropologi dan paradigma struktural. Paradigma antropologi digunakan untuk melihat aspek pementasan tradisi bhanti-bhanti serta masyarakat pendukungnya. Paradigma struktural digunakan untuk melihat aspek formula dan komposisi skematiknya, sebagai intrinsik tradisi bhanti-bhanti Wakatobi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pementasan tradisi bhanti-bhanti Wakatobi memiliki memiliki beberapa unsur yaitu: (1) situasi dan tempat pementasan, (2) unsur performer atau pelantun (orang yang melakukan pertunjukan), (3) audies dan partisan (orang-orang yang terlibat pementasan), (4) media (sarana dan prasarana yang digunakan, baik verbal maupun material seperti nada, ekspresi, dan kostum), (5) variasi pementasan sebagai akibat dari reaksi audiens, dan (6) bahan atau alat (yang meliputi seluruh alat yang digunakan dalam pementasan tradisi lisan. Formula tradisi bhanti-bhanti Wakatobi memiliki (1) formula baris, (2) kata, (3) kelompok kata, yang bekerja sebagai sarana pengungkapan sekuen, sekaligus sebagai sarana untuk mengingat. Komposisi skematik tradisi bhanti-bhanti dibagi menjadi: (1) sekuen pembuka, (2) sekuen tengah, dan (3) sekuen penutup. Sekuen pembuka biasanya membicarakan tentang konteks pementasan, yang menyangkut, tempat, tokoh, atau peristiwa yang terjadi sebagai latar pementasan. Sekuen tengah, merupakan sekuen- sekuen yang muncul sebagai pengembangan dari pelantun, yang biasanya sudah dipengaruhi oleh respon penonton. Akhir dari sebuah pementasan, biasanya ditandai dengan beberapa sekuen penutup, yang sekaligus sebagai respon atas konteks pementasan. Demikian juga sebaliknya, tanpa formula, maka tidak akan ada pementasan lisan, yang bergerak dengan cepat dan tepat, karena melalui formula itulah, komposisi skematik berkembang atau disusun dan diterima oleh penonton. Pementasan, formula dan komposisi skematik merupakan tiga aspek yang tidak dapat dipisahkan dalam tradisi lisan, termasuk di dalam tradisi bhanti-bhanti Wakatobi.

Talking about Wakatobi bhanti-bhanti tradition, cannot be separated from the aspects of staging and text. Staging of Wakatobi bhanti-bhanti tradition has been changing follow of its community change. Therefore, scientific research as the basis for the preservation of Wakatobi bhanti-bhanti tradition should be do. It s caused by bhanti-bhanti oral tradition not only as an entertainment, but also as a cultural communication media that contains some values, morals, ethics, and history of its community. The theory used in this research is the theory of orality by Albert Bates Lord. To apply the theory, this research used two paradigms, namely anthropology and structural paradigms. Anthropology paradigm used to see aspect of bhanti-bhanti tradition staging as well as its community. Structural paradigm used to analyze the formula aspect of bhanti-bhanti tradition and its schematic composition, as its intrinsically. These results indicate that the staging of bhanti-bhanti tradition has several elements, namely: (1) the situation and staging place, (2) the elements of performer or singer (the person who doing the performance), (3) audience and partisan (those which involved in staging), (4) media (infrastructure used, both verbal and material such as tone, expression, and costumes), (5) the variation staging as a result of the audience's reaction, and (6) of materials or tools (which include the entire apparatus used in the staging of oral tradition. Formula of bhanti-bhanti tradition has: (1) the formula line, (2) word, (3) a group of words, who works as a media of sequence expressions, as well as a media to remember. The schematic composition of bhanti-bhanti tradition divided into: (1) The opening sequence, (2) middle sequence, and (3) the closing sequence. Opening sequence usually talking about the context of the staging, which involves, places, people, or events that occur in the background staging. Middle sequent is sequences that appeared and used by the singer to create the text, which is usually influenced by the audience's response. The end of a play, usually marked by some sequences cover, which at the same time as the response to the context of the staging. Vice versa, without the formula, there would be no oral staging, moving quickly and precisely, because through that formula, schematic composition developed or compiled and received by the audience. Staging, formula and schematic composition are three aspects that cannot be separated in the oral tradition, included in bhanti-bhanti Wakatobi tradition

Kata Kunci : Tradisi, bhanti-bhanti, pementasan, formula, komposisi skematik Tradition, bhanti-bhanti, staging, formula, schematic composition,

  1. S3-2016-309439-abstract.pdf  
  2. S3-2016-309439-bibliography.pdf  
  3. S3-2016-309439-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2016-309439-title.pdf