Laporkan Masalah

CAREM:PUNCAK KUALITAS BAWA DALAM KARAWITAN GAYA SURAKARTA

SUYOTO, Prof. Dr. Timbul Haryono, M.Sc. ; Prof. Dr. Sri Hastanto, S.Kar.

2016 | Disertasi | S3 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa

Karawitan gaya Surakarta selain memiliki garap ricikan yang rumit, juga memiliki garap vokal yang tidak kalah rumitnya dengan garap ricikan. Vokal dimaksud salah satunya adalah bawa yang pada dasa warsa terakhir ini para pelantun bawa kurang peduli terhadap kaidah-kaidah musikal yang berkaitan dengan garap vokal, akhirnya kualitas bawa semakin menurun, sehingga membuat gelisah para seniman, penikmat, bahkan kegelisahan budaya. Bawa termasuk barang aji (kagunan), yang perlu dirawat dan dijaga kelestariannya. Secara kualitas bawa memiliki beberapa tingkatan yaitu: (rendah, sedang, baik), lebih dari baik dinamakan luar biasa, yang kemudian disebut carem. Jadi carem adalah puncak kualitas pada tataran rasa yang paling tinggi atau mencapai keselarasan yang luar biasa, sehingga tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Berawal dari rasa gelisah, maka penelitian ini berusaha mengungkap permasalahan yang berkaitan dengan bawa dalam Karawitan Gaya Surakarta, (1) Mengapa bawa yang carem dalam karawitan gaya Surakarta memiliki peran penting? (2) Bagaimana menyajikan bawa dapat mencapai carem?, dan (3) Apakah pengaruh bawa yang carem terhadap sajian gending? Tiga permasalahan tersebut dikaji dengan menggunakan teori garap, teori pathet, teori hermeneutic, dan teori estetika. Akumulasi dari berbagai aspek analisis yang dilakukan dalam kajian ini intinya mengarah kepada tujuan untuk dapat menghasilkan suatu temuan penelitian yang terpusat pada intisari permasalahan. Penelitian ini bersifat kualitatif. Data dikumpulkan melalui studi pustaka, wawancara, dan pengamatan langsung terhadap pelantun bawa dalam pertunjukan karawitan di berbagai wilayah se Solo Raya. Hasil penelitian ini adalah temuan sebuah konsep keberhasilan bawa yang mencapai kualitas puncak rasa yang disebut carem. Persyaratan yang harus dipenuhi oleh pelantun bawa untuk dapat mencapai carem adalah:1) memiliki dasar suara baik dan larasan pleng, 2) menguasai teknik penyuaraan (luk, wilet, dan gregel), 3) menguasai teknik pernafasan yang baik, 4) mampu menafsir dinamika 5) mampu mengatur laya, 6) memiliki kepekaan pathet, 7) mampu memilih cengkok, sesuai dengan jenis suara. Carem berpengaruh terhadap sajian gending dan memberikan kepuasan batiniyah kepada penikmat.

Surakarta style karawitan not only involves a complex garap (performance practice or interpretation) of all the instruments but also requires an equally complex garap in the vocal part. One of the elements of the vocal part is the bawa, and during the past decade many vocalists who perform bawa have begun to pay little attention to the musical principles related to vocal garap, leading to a decline in the quality of the bawa, and this has become a cause of concern for artists and art connoisseurs, as well resulting in a sense of cultural unease. The bawa is in fact a valuable art object (kagunan) and for this reason it should be well looked after and preserved. In terms of quality, the bawa has different levels (low, moderate, and high), the highest level of which may be called extraordinary, or subsequently referred to as carem. Hence, carem is the peak quality in the highest level of rara (feeling or affect) or in other words the achievement of an extraordinary sense of harmony which cannot be described in words. Beginning with a sense of unease, this research attempts to uncover various problems related to the bawa in Surakarta style karawitan, namely: (1) Why does carem in Surakarta style karawitan hold an important position (2) How does a bawa singer achieve carem? (3) What effect does carem have on the bawa of a gendhing,? These three problems are examined using theories of garap, pathet, hermeneutics, and aesthetics. The accumulation of the various aspects analyzed in this study is essentially directed towards the goal of producing a research finding that is centred on the essence of the problem. The research is qualitative in nature. The data was collected through a literature review, interviews, and direct observation of bawa singers in karawitan performances in and around various parts of the Solo area. The results of the research discovered a concept of success for a bawa which achieves a peak quality of rasa, known as carem. The conditions that must be met by a bawa singer in order to achieve carem are: 1) a good voice and accurate pitch, 2) a good command of vocal techniques (luk, wiled, and gregel), 3) a good command of breathing techniques, 4) the ability to interpret dynamics, 5) the ability to regulate the laya (tempo), 6) sensitivity to pathet, and 7) the ability to select cengkok, according to the type of voice. Carem influences the course of the gendhing, and provides a sense of inner satisfaction for connoisseurs.

Kata Kunci : Kata kunci: bawa, garap, dan carem.

  1. S3-2016-292615-abstract.pdf  
  2. S3-2016-292615-bibliography.pdf  
  3. S3-2016-292615-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2016-292615-title.pdf