Disiplin Tubuh dalam Perebutan Identitas Budaya: Perjalanan Kebudayaan Jember Fashion Carnaval dan Ojung di Kabupaten Jember
LUKMAN WIJAYA B, Prof. Dr. Heru Nugroho
2015 | Tesis | S2 SosiologiJember adalah wilayah administratif kabupaten yang telah muncul sejak era kolonial. Namun ketika penentuan maknanya sebagai suatu wilayah budaya, hal tersebut belumlah terwujud sampai dengan persoalan budaya mengemuka dengan munculnya JFC. Pada suasana dimana pembentukan identitas budaya secara perseptual menjadi bagian yang tampak lebih menonjol, hal tersebut menghadirkan tiga discourse yang masing-masing mencoba untuk meraih dan menentukan makna terakhir dari Jember sebagai wilayah budaya, yaitu tradisionalisme, metropolisme dan pemerintah kabupaten. Ketiganya hadir dalam detail yang berbeda dalam mengupayakan penentuan bentuk perseptual budaya tersebut melalui pendisiplinan terhadap tubuh para pemain kesenian, tetapi tidak dalam akar ideologis mereka yang meniscayakan adanya struktur dualistis masyarakat. Kemudian berpuncak dengan adanya pengakuan resmi secara nasional bahwa hal tersebut adalah proses untuk mewujudkan sebuah kota carnival yang melibatkan seluruh masyarakat Jember dan pembangunan ekonomi daerahnya. Dengan telah ditemukannya identitas budaya Jember, persoalan tentang keikutsertaan seluruh warga dalam perayaannya masih belum menjadi bagian yang merepresentasikan hadirnya keikutsertaan perbedaan karakteristik budaya yang subyeknya tidak harus ditentukan oleh ketiga discourse tersebut, yang kini, ketiganya telah tampil sebagai discourse dari elit budaya di Jember. Perbedaan yang tidak ikut serta itu dapat terlihat dari keberadaan Ojung di Jember yang posisinya tidak hanya tanpa memiliki artikulasi yang utuh tentang dirinya sebagai wujud dari salah satu aspek budaya di Jember, namun menantang pula penentuan makna etnisitas yang menjadi dasar argumentasi tradisionalisme, sekaligus juga bentuk pengorganisiran event budaya yang dilakukan oleh intelektual metropolis dan pemerintah kabupaten. Dengan demikian pembentukan identitas budaya di Jember masih sangat ditentukan oleh elit budayanya, sehingga jangkuan representasinya tidak berhasil dalam melibatkan dan mengidentifikasi keberadaan bentuk kesenian tertentu yang sebenarnya adalah bagian paling mendasar dari beragamnya masyarakat Jember dan kekayaan unsur budayanya sendiri.
Jember is regency administrative territory that has been emerged since colonial era. However, when it comes to the point of determining its meaning as cultural territory, it has not been clear until the appearance of Jember Fashion Carnaval (JFC). In the condition where the shaping of perceptually cultural identity has become major, it has three discourses in effort to find and determine Jember as cultural territory, such as traditionalism, metropolism, and regencial government. These three discourses are present in different detail in order to determine the shape of its perceptual culture through disciplinary of body of artist but not within their ideological root that certainly believed the existence dualism of social structure. Then culminated with the nationally official acknowledgement that it was a process to build a carnival city which involved the entire of Jember society and it’s economic region development. Within the finding of Jember cultural identity, the problem of whole citizen involvement in city celebration has not been of representing the characteristic difference of culture in which the subject may not be determined by the three discourses, which now appear as the elit culture of Jember. The difference which is not part of those three discourses can be found in the art of Ojung in Jember. Ojung’s position is not only without having complete articulation about itself as the reflection one of cultural aspect in Jember, however it challenges the determination of ethnicity meaning as the argumentative basis of traditionalist, as well as the shape of organizing cultural ever done by metropolist intellectuals and regency government. By then, cultural identity shaping in Jember is still determined by its cultural elite, so that the scope of it representation does not succeed in involving and identifying the existence of certain art form in which basically it has become fundamental of the variety of Jember society and its cultural richness.
Kata Kunci : identitas budaya, disiplin, elit, carnival