DEKONSTRUKSI SIKAP HIDUP ORANG JAWA DALAM LIRIK TEMBANG CAMPURSARI PILIHAN KARYA MANTHOUS
NISA FAIZATUL AZKIYA, Dr.Pujiharto, M.Hum
2015 | Tesis | S2 Ilmu SastraSikap hidup orang Jawa merupakan tingkah laku, dan watak terpuji yang harus dimiliki oleh orang Jawa dalam kehidupannya, dalam serat Sasangka Djati disebutkan ada lima sikap yang harus dimiliki oleh orang Jawa, yakni rila (rela), narima (menerima), sabar, temen (menepati janji), dan budi luhur. Lirik tembang campursari pilihan karya Manthous, merupakan salah satu karya sastra berbentuk puisi Jawa yang di dalamnya banyak mengangkat atau memaparkan sikap hidup orang Jawa. Tujuan penelitian ini yakni memaparkan sikap hidup orang Jawa yang tercermin dalam lirik tembang campursari pilihan karya Manthous dan memperlihatkan bentuk keambiguan/ketidakpastian makna sikap hidup orang Jawa dalam lirik tembang campursari pilihan karya Manthous. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori dekonstruksi yang dikembangkan oleh Jacques Derrida. Teori tersebut menjelaskan metode pembacaan secara dekonstruktif, yakni: 1) mencari dan mengumpulkan pasangan oposisi berpasangan dalam teks, lalu menentukan oposisi hierarkinya, pembedaan antara yang teristimewa dan yang terpinggirkan. 2) melakukan pembalikan keistimewaan dengan merancukan dan menghapus cara berpikir oposisi berpasangan, 3) penolakan terhadap logosentrisme dengan cara merancukan dan menunda oposisi antara teristimewa dengan yang terpinggirkan. Setelah dilakukan pembacaan secara dekonstruktif, sikap hidup yang terdapat dalam lirik tembang campursari pilihan karya Manthous justru hanya sebatas harapan saja, tidak ada lagi sikap hidup orang Jawa yakni rela, menepati janji, sabar, dan menerima yang diamalkan oleh orang Jawanya itu sendiri, justru yang digambarkan dalam lirik tembang campursari bukanlah sikap hidup orang Jawa, melainkan sikap yang merupakan kebalikan dari sikap hidup orang Jawa itu sendiri yakni sikap terburu-buru (kesusu) yang beroposisi dengan sabar, rela, menerima, lalu berbohong dan ingkar (lamis/lelewa, lan cidra) yang beroposisi dengan menepati janji (temen), dan sembarangan (sembrono) yang beroposisi dengan sikap budi luhur. Ketika sikap hidup orang Jawa terkalahkan oleh sikap kebalikannya, maka itu adalah suatu kemunduran. suatu kemunduran itu memang hanya bisa diatasi ketika istilah yang terpinggirkan atau dalam hal ini sikap buruk diberikan kedudukan yang sama seperti halnya sikap hidup orang Jawa yang menempati posisi teristimewa. Artinya bahwa hierarkis yang terbangun dari serangkaian oposisi berpasangan yang ada, tiba-tiba membatalkan diri dan menunda struktur makna yang dibangunnya sendiri, perbedaan antara sikap baik dan buruk dicairkan, sikap yang baik menjadi buruk, sikap yang buruk menjadi baik yang wajar dilakukan oleh setiap manusia.
Javanese peoples attitudes are based on their actions. According to the Serat Sasangka Djati, there are five attributes which a Javanese person must exhibit in their interactions: rila (compliance), narima (acceptance), sabar (patience), temen (keeping promises), and budi luhur (nobility). The lyrics of the campursari songs written by Manthous are a form of literature which presents many Javanese life values. This research is intended to explore the life values reflected in the lyrics of these songs, focusing in particular in the ambiguity and ambivalence of the meaning of said values within the lyrics. This research was conducted using Jacques Derridas concept of deconstruction. The text was read in a deconstructive manner, using the following steps: 1) finding and collecting pairs of opposites from within the text, then finding their hierarchy and the difference between the particular and the marginalized 2) reversing this positioning by eliminating all thoughts based in binary opposition, 3) rejecting logocentrism by reducing the opposition between the particular and the marginalized. After this deconstructive reading was conducted, the Javanese life values found in the lyrics of the campursari songs by Manthous were nothing but delusions. The attributes of compliance, acceptance, patience, keeping promises, and nobility, so emphasized by Javanese tradition, were replaced in the lyrics by haste (kesusu)an opposite of patiences and deception (cidra/lamis/ngapusi) opposite of promise and flippancy (sembrono) opposite of nobility. When Javanese life values are overcome by their opposites, it is a form of regression, a regression which can only be reversed when the marginalized terminologys here, attitudes considered inappropriate by Javanese cultures is positioned at the same level as the particular. This means that the hierarchy established by the pairs of binary opposites will renege itself and delay the creation of its own structure of meaning. The difference between good and bad is erased; a proper attitude becomes inappropriate, while inappropriate acts become acceptable, and even expected, of all people.
Kata Kunci : sikap hidup orang Jawa, lirik tembang campursari, pembacaan dekonstruktif, Javanese attitudes, lyrics of campursari songs, deconstructive reading