Parasocial Relationships and Fandom in Online Social Media: A Nethnographic Study Among The Love and Deepspace Roleplayers and Fans on X
Clara Alverina Fitria Saerang, Lidwina Mutia Sadasri, S.I.P,. M.A.
2026 | Skripsi | Ilmu Komunikasi
Studi ini mengkaji perkembangan dan dinamika hubungan parasosial (parasocial relationships/PSR) dalam komunitas bermain peran (roleplay) Love and Deepspace di Indonesia yang dikenal sebagai "Ladstwt" di platform Twitter/X. Dengan meninjau persinggungan antara psikologi media, fandom partisipatif, dan komunikasi bermediasi komputer, penelitian ini berfokus pada bagaimana pengguna di Indonesia membentuk keterikatan emosional satu arah terhadap sesama pemain peran yang memerankan karakter fiksi. Menggunakan pendekatan netnografi dari Kozinets, data dikumpulkan secara sistematis antara Maret 2024 hingga Juli 2026 melalui observasi non-partisipatif terhadap interaksi di linimasa publik, penggunaan kotak tanya anonim lintas platform (seperti Retrospring dan Tellonym), artefak tekstual, serta observasi dan wawancara tertulis dengan para pengelola akun bermain peran (Muns), baik yang masih aktif maupun tidak. Melalui analisis tematik, temuan penelitian menunjukkan bahwa fitur-fitur platform, seperti visibilitas yang berkelanjutan, anonimitas struktural, dan "microblogging" waktu nyata—meruntuhkan "dinding keempat" (fourth wall) dalam media tradisional, sehingga menciptakan kesan interaksi timbal balik semu. Dengan melokalisasi kekayaan intelektual perusahaan melalui praktik "pencurian tekstual" (textual poaching), para pemain peran memproyeksikan kehadiran sosial yang intens, yang oleh penggemar sering kali disalahartikan sebagai ketersediaan interpersonal yang nyata. Akibatnya, kekaguman biasa dapat berkembang di sepanjang kontinum parasosial menjadi proyeksi romantis yang posesif, rasa berhak yang toksik, hingga pelanggaran batasan yang bersifat intrusif (seperti doksing identitas dan pelecehan seksual). Untuk bertahan dari beban emosional dan kelelahan ("burnout"), para pemain peran menerapkan manajemen batasan defensif, seperti penggunaan panduan di carrd.co, "soft-blocking", dan penguncian akun, sementara komunitas fandom secara luas turut melakukan pengawasan kolektif untuk meredam perilaku parasosial yang berlebihan.
This study examines the development and dynamics of parasocial relationships (PSRs) withinthe Indonesian Love and Deepspace roleplaying community (Ladstwt) on Twitter/X.Operating at the intersection of media psychology, participatory fandom, and computer-mediated communication, the research focuses on how Indonesian users form one-sidedemotional attachments toward peer roleplayers who perform fictional character personas(Muses). Employing Kozinets' netnographic approach, data was systematically gatheredbetween March 2024 and July 2026 through non-participatory observation of public timelineinteractions, cross-platform anonymous ask-boxes (Retrospring and Tellonym), textualartifacts, observations and written interviews with active and inactive roleplay operators(Muns). Using thematic analysis, the findings reveal that platform affordances, such aspersistent visibility, structural anonymity, and real-time microblogging shatter the traditionalmedia "fourth wall," generating a quasi-interactive "impression of mutual engagement. Bylocalizing corporate intellectual property through textual poaching, roleplayers projectenhanced social presence that fans mistake for genuine interpersonal availability.Consequently, casual admiration frequently escalates along the parasocial continuum intopossessive romantic projections, toxic entitlement, and intrusive boundary violations (e.g.,identity doxings and sexual harassment). To survive emotional labor and creator burnout,roleplayers execute defensive boundary management via Carrd.co guidelines, soft-blocking,and account locking, while the broader fandom actively engages in collective communitypolicing to suppress parasocial excess.
Kata Kunci : Twitter/X, Roleplay. Love and Deepspace, Parasocial Relationship, Fandom, Platform Affordances