Laporkan Masalah

KIDUNG RUMEKSA ING WENGI DALAM RITUAL MUBENG BENTENG DI KERATON YOGYAKARTA: KESELARASAN DALAM DINAMIKA LIMINAL DAN LIMINOID

Widiyarti Rochmaningtiyas Caturputri, Dr. Samsul Maarif, M.A. ; Dr. Aton Rustandi Mulyana, M.Sn.

2026 | Tesis | S2 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa

Penelitian ini mengkaji dua fenomena dalam ritual Mubeng Beteng di Keraton Yogyakarta pada malam 1 Sura, yaitu gugusan sastra kidungan sakral yang berpusat pada Kidung Rumeksa Ing Wengi (KRIW) dan dilantunkan sebagai acara tunggu (acara menunggu) di Kamandhungan Lor (Keben), serta dialektika struktur tata laksana ritual Keraton dengan pengalaman ambang batas peserta dalam prosesi fisik. Penelusuran lapangan menyingkap jarak antara idealitas normatif ritual, yakni KRIW yang dilantunkan tunggal dalam keheningan dan kepatuhan pada pakem topo bisu (berjalan membisu), dengan realitas empiris-sosiologisnya yang diwarnai gugusan kidungan lebih beragam serta meluasnya partisipasi publik. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana gugusan kidungan beroperasi dan mempertahankan otonomi teksnya sebagai instrumen fase pre-liminal, serta bagaimana dialektika structure dan anti-structure membentuk communitas sebagai ruang pengelolaan keselarasan identitas Jawa-Islam. Penelitian menggunakan etnografi kritis melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan Abdi Dalem dan peserta ritual, serta telaah teks dan arsip, dengan analisis Teori Proses Ritual Victor Turner (liminal dan liminoid sebagai spektrum), hermeneutika teks Paul Ricoeur, dan memori budaya Jan Assmann. Hasilnya, gugusan kidungan mengondisikan ruang, bahasa, bunyi, dan kesadaran peserta pada fase pre-liminal, dan otonominya terjaga melalui konsistensi isi, susunan bait, dan urutan pelantunan di tengah ruang liminoid yang meluas. Pada prosesi fisik, suspensi struktur tidak pernah total karena urutan barisan, identitas visual Abdi Dalem, dan arah rute tetap dipertahankan; dialektika structure dan anti-structure melahirkan communitas berlapis: spontan, ideologis, dan normatif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keselarasan identitas Jawa-Islam dalam ritual Mubeng Beteng dicapai bukan melalui penghapusan struktur atau peleburan identitas, melainkan melalui negosiasi dan reproduksi makna yang berlangsung terus-menerus antara teks, ruang ritual, dan komunitas penuturnya.

Kata kunci: Kidung Rumeksa Ing Wengi; ritual Mubeng Beteng; liminal-liminoid; communitas; keselarasan Jawa-Islam

This study examines two phenomena in the Mubeng Beteng ritual at the Yogyakarta Palace on the eve of 1 Sura: the kidung (chants) centered on Kidung Rumeksa Ing Wengi (KRIW), performed as the waiting session (acara tunggu) at Kamandhungan Lor (Keben), and the dialectic between the Palace ritual's structure and participants' threshold experience (anti-structure) in the procession. Fieldwork reveals a gap between the normative ideal, KRIW chanted alone and a procession under topo bisu (silent walking), and a reality of broader chants and wider participation. It analyzes how the chants operate as an instrument of the pre-liminal phase while sustaining their textual autonomy, and how structure and anti-structure shape communitas for managing Javanese-Islamic identity harmony. Using critical ethnography, it combines participant observation, interviews with Abdi Dalem and participants, and textual and archival analysis, interpreted through Victor Turner's ritual process theory (liminal and liminoid as a spectrum), Paul Ricoeur's hermeneutics, and Jan Assmann's cultural memory. Findings show that the chants condition participants' space, language, sound, and consciousness in the pre-liminal phase; their autonomy persists through consistent content, stanzas, and chanting order amid expanding liminoid space. In the procession, structure is never wholly suspended, as marching order, the Abdi Dalem's visual identity, and the route are maintained; structure and anti-structure produce a layered communitas: spontaneous, ideological, and normative. It concludes that Javanese-Islamic harmony is achieved not by erasing structure or dissolving identity, but through ongoing negotiation and reproduction of meaning among text, ritual space, and community.

Keywords: Kidung Rumeksa Ing Wengi; Mubeng Beteng ritual; liminal-liminoid; communitas; Javanese-Islamic harmony

Kata Kunci : Kidung Rumeksa Ing Wengi, ritual Mubeng Beteng, liminal-liminoid, communitas, keselarasan Jawa-Islam

  1. S2-2026-495971-abstract.pdf  
  2. S2-2026-495971-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-495971-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-495971-title.pdf