Saling Silang Karawitan Jawa-Bali dalam Garap Planet Harmonik dan Asana Wali
Riza Alif Aulia, Dr. G.R. Lono L. Simatupang, M.A; Dr. I Nyoman Cau Arsana, S.Sn., M.Hum
2026 | Tesis | S2 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa
Tradisi kerap kali dipandang sebagai sebuah warisan yang beku dan baku. Penelitian ini membaca ulang anggapan tersebut dengan menelusuri tradisi kaitannya dengan persoalan migrasi atau perpindahan penduduk. Migrasi atau perpindahan penduduk memungkinkan adanya praktik transkultural, dalam penelitian ini fenomena tersebut dibaca melalui kesenimanan Pande Made Sukerta dan Aloysius Suwardi sebagai kasus yang memperlihatkan saling silang Jawa-Bali. Dua karya mereka yaitu "Asana Wali" dari Sukerta dan "Planet Harmonik" dari Suwardi dijadikan objek analisis untuk membaca persoalan garap yang lahir dari praktik saling silang tersebut. Gagasan Svasek terkait Transit dan Transformasi, lalu Ruang Ketiga dari Bhabha, dan Garap dari Supanggah diwacanakan guna membaca persoalan dalam penelitian ini. Metode kualitatif dengan pendekatan etnomusikologi diterapkan agar dapat membaca musik sebagai teks yang dapat dibaca dan ditafsirkan. Penelitian ini berhasil menunjukkan bagaimana praktik transkultural yang dialami oleh Sukerta dan Suwardi--yang berakar dari ekosistem seni di ASKI Surakarta dan PKJT era Humardani sebagai ruang ketiga, berperan dalam membentuk kesenimanan mereka hari ini. Hal itu tertuang dalam karya "Asana Wali" dan "Planet Harmonik". Temuan ini menegaskan bahwa tradisi selalu bergerak dan dinegosiasikan melalui perjumpaan dan mobilitas individu seniman. Secara teoritis, penelitian ini memperluas jangkauan konsep Ruang Ketiga dari Bhabha untuk membaca persilangan budaya dalam satu bangsa, sekaligus menunjukkan garap sebagai instrumen analisis mikro untuk melacak jejak transkulturalitas pada level tekstual karya. Secara praktis, menunjukkan bahwa ASKI dan PKJT era Humardani sebagai institusi pendidikan seni memiliki peran strategis sebagai ruang ketiga yang menumbuhkan kreativitas lintas budaya.
Tradition is often viewed as a static and rigid legacy. This study seeks to reinterpret that assumption by examining tradition in relation to the issue of migration or population displacement. Migration or population displacement enables transcultural practices; in this study, this phenomenon is examined through the artistic works of Pande Made Sukerta and Aloysius Suwardi as a case that illustrates Javanese-Balinese intersections. Two of their works—“Asana Wali” by Sukerta and “Planet Harmonik” by Suwardi—serve as the objects of analysis to explore the creative issues arising from these intersections. Svasek’s concepts of “Transit” and “Transformation,” Bhabha’s “Third Space,” and Supanggah’s concept of “Garap” are employed to analyze the issues in this study. A qualitative method with an ethnomusicological approach is applied to interpret music as a text. This study successfully demonstrates how the transcultural practices experienced by Sukerta and Suwardi—rooted in the artistic ecosystems of ASKI and PKJT during the Humardani era as “Third Spaces”—have shaped their artistic practices today. These findings emphasize that tradition is always in flux and negotiated through the encounters and mobility of individual artists. Theoretically, this research expands the scope of Bhabha’s “Third Space” concept to analyze cultural intersections within a single nation, while also demonstrating that “garap” serves as a micro-analytical tool for tracing the traces of transculturality at the textual level of the works. Practically, it demonstrates that ASKI and PKJT during the Humardani era, as art education institutions, played a strategic role as third spaces that fostered cross-cultural creativity.
Kata Kunci : Transkultural, Ruang Ketiga, Garap, Planet Harmonik, Asana Wali