Ikonografi Motif Prambanan (Kajian Seni Rupa Jawa Kuno Abad Ke IX)
Dwi Pradnyawan, Dr. Budi Irawanto, S.I.P, M.A.; Dr. G.R. Lono Simatupang
2026 | Disertasi | S3 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa
Disertasi
ini mengkaji Motif Prambanan, yakni sistem hias non-cerita yang terdapat pada
bagian kaki enam bangunan utama di Kompleks Candi Prambanan. Berbeda dari
kajian sebelumnya yang memusatkan perhatian pada relief cerita dan arca dewata,
penelitian ini menempatkan motif hias sebagai objek utama analisis.
Permasalahan yang dirumuskan mencakup tiga hal: bagaimana unsur-unsur seni rupa
diwujudkan dalam Motif Prambanan sehingga membentuk satu sistem ornamentasi
yang khas, bagaimana variasi pada motif menunjukkan perbedaan dan persamaan
dengan candi-candi Jawa Tengah lainnya, serta bagaimana fungsi rupa di luar
fungsi dekoratif terbentuk secara kontekstual. Berdasarkan ketiga rumusan
tersebut, penelitian ini bertujuan membangun pemahaman mengenai Motif Prambanan
sebagai sistem rupa yang terstruktur, sekaligus mengungkap mekanisme makna yang
bekerja melalui pengulangan, variasi, dan pengolahan tradisi.
Penelitian
ini menggunakan pendekatan ikonografi Panofsky (tahap pra-ikonografi,
ikonografi, dan ikonologi) yang didukung analisis formal (Feldman),
perbandingan stilistik (Gombrich dan Klokke), serta interpretasi kultural (Acri
dan Bakhtin). Sebanyak 153 panel yang tersebar pada Candi ?iwa, Brahma, Wi??u,
serta candi-candi wahana dianalisis secara sistematis.
Hasil
penelitian memperlihatkan bahwa Motif Prambanan tersusun dari figur singa pada
ceruk tengah, kalpataru sebagai unsur sentral yang diapit kinnara-kinnari dan
beragam fauna, yakni disusun dalam pengulangan yang teratur namun dengan
variasi terkendali. Analisis formal memperlihatkan bahwa motif dibangun melalui
pengorganisasian unsur rupa yang terkontrol, didominasi garis lengkung, bidang
berlapis, kontras gelap-terang yang terukur, dan tekstur selektif, sehingga
membentuk komposisi yang menyatu, seimbang, dan berirama. Analisis stilistik
memperlihatkan bahwa variasi pada motif bukan ketidakkonsistenan, melainkan
hasil adaptasi dalam kerangka yang stabil, yakni mencerminkan praktik kerja
kolektif perupa Jawa Kuno abad ke-9. Pada tataran ikonologis, Motif Prambanan
memperlihatkan kecenderungan "Realisme Sakral" dan "pembalikan
simbolik", yakni kesakralan tidak dihapus melainkan dinegosiasikan ulang
melalui pengolahan gestur santai, ekspresi tertawa, dan anomali rupa yang
disengaja, seperti figur kinnara berkepala resi. Kemungkinan satire visual ini
bekerja secara implisit, selaras dengan tradisi alegoris dalam teks R?m?ya?a
Jawa Kuno.
Penelitian
ini memberikan kontribusi pada penyeimbangan historiografi seni Jawa Kuno
dengan memperlihatkan bahwa sistem ornamentasi non-cerita bukan elemen
pelengkap, melainkan data rupa penting yang mampu memberikan informasi mengenai
praktik artistik, konvensi gaya, dan cara tradisi rupa diadaptasi dalam konteks
tertentu. Motif Prambanan diposisikan sebagai bagian integral dari sistem rupa
arsitektur Jawa Kuno.
This
dissertation examines the Prambanan Motif, a non-narrative ornamental system
found on the base of six main temples in the Prambanan Temple Complex. Unlike
previous studies that focused on narrative reliefs and deity statues, this
research places ornamental motifs as the primary object of analysis. The
research addresses three problems: how the visual elements and their organizing
principles are realized in the Prambanan Motif to form a distinctive ornamental
system; how variations within the motif show differences and similarities with
comparable motifs on other Central Javanese temples, particularly Buddhist
temples of the 8th and 9th centuries; and how visual functions beyond the
decorative are contextually constituted within the Prambanan Motif. Building on
these three problems, the research aims to establish an understanding of the
Prambanan Motif as a structured visual system and to reveal the mechanisms of
meaning that operate through repetition, variation, and the reworking of
tradition.
The
research employs Panofsky's iconographic approach (pre-iconographic,
iconographic, and iconological stages), supported by formal analysis (Feldman),
stylistic comparison (Gombrich and Klokke), and cultural interpretation (Acri
and Bakhtin). A total of 153 panels distributed across the ?iwa, Brahma, and
Wi??u temples and their vehicle temples were systematically analyzed.
The
findings show that the Prambanan Motif is composed of lion figures in the
central niche, a kalpataru as the central element flanked by kinnara-kinnari
and diverse fauna, arranged in regular repetition with controlled variation.
Formal analysis reveals that the motif is built through a controlled
organization of visual elements, dominated by curvilinear lines, layered
fields, measured light–dark contrasts, and selective textures, forming a
unified, balanced, and rhythmic composition adapted to the proportions of each
temple base. Stylistic analysis demonstrates that variations are not
inconsistencies but adaptations within a stable framework, reflecting the
collective work practices of ninth-century ancient Javanese artisans. At the
iconological level, the Prambanan Motif reveals tendencies toward "Sacral
Realism" and "symbolic inversion," in which sacredness is not
eliminated but renegotiated through relaxed gestures, smiling expressions, and
deliberate visual anomalies, such as kinnara figures with ascetic heads.
This possibility of visual satire operates implicitly, in line with allegorical
traditions in the Old Javanese R?m?ya?a.
This
research contributes to rebalancing the historiography of ancient Javanese art
by demonstrating that non-narrative ornamental systems are not supplementary
elements but important visual data capable of providing information on artistic
practices, stylistic conventions, and the ways in which visual traditions are
adapted to specific contexts. The Prambanan Motif is positioned as an integral
part of the visual system of ancient Javanese temple architecture.
Kata Kunci : Motif Prambanan, ikonografi, gaya seni Jawa Kuno, sistem rupa non-cerita, desakralisasi terkendali, pembalikan simbolik, Jawa Tengah abad ke-9