Kerentanan Mahasiswa dalam Praktik Magang: Studi Kasus Praktik Magang dan Kondisi Kerja Mahasiswa di Lembaga Keuangan di Yogyakarta Dan Surakarta
Muhammad Dadang Isnandar, Muchtar Habibi, S.I.P., M.A., Ph.D.
2026 | Tesis | S2 Administrasi Publik
Praktik magang semakin banyak digunakan sebagai
sarana bagi mahasiswa untuk mempersiapkan diri memasuki pasar kerja. Namun,
kondisi ini berpotensi menimbulkan kerja yang rentan ketika keterlibatan dalam
aktivitas organisasi tidak diikuti dengan kejelasan status, perlindungan, dan
kompensasi yang memadai. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana
praktik magang membentuk kondisi kerja mahasiswa pada lembaga keuangan di
Yogyakarta dan Surakarta serta mengidentifikasi bentuk-bentuk kerentanan yang
muncul dalam praktik tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif
dengan desain studi kasus komparatif pada sektor perbankan dan asuransi. Data
diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi dengan
20 mahasiswa yang menjalani magang serta pihak manajemen. Data dianalisis
secara tematik dengan menggunakan perspektif labour regime untuk melihat
mekanisme rekrutmen, kontrak, status, jam kerja, kontrol, evaluasi, dan
kompensasi serta keterkaitannya dengan kondisi kerja mahasiswa. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa pada praktiknya terlibat dalam pekerjaan
produktif yang memiliki nilai operasional bagi organisasi. Kondisi tersebut
menghasilkan berbagai bentuk kerentanan, meliputi cost shifting,
intensitas dan tekanan kerja yang menyerupai pekerja reguler, relasi organisasi
yang tidak setara, lemahnya perlindungan formal, serta dampak fisik dan
psikososial. Kerentanan tersebut bervariasi antar sektor dan jenis magang.
Selain itu, hope labour berperan dalam menormalisasi kondisi tersebut.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa praktik magang di lembaga keuangan berfungsi
sebagai labour regime pra-formal yang mengaburkan batas antara status
mahasiswa sebagai peserta pembelajaran dan pekerja produktif. Oleh karena itu,
diperlukan tata kelola magang yang lebih jelas dan adil melalui penguatan
status dan perjanjian magang, pembatasan beban serta jam kerja, mekanisme
perlindungan, dan kompensasi yang proporsional bagi mahasiswa yang memberikan
kontribusi produktif kepada organisasi.
Internships are increasingly used as a means
for students to prepare themselves for entering the labour market. However,
this condition may potentially give rise to precarious work when students’
involvement in organizational activities is not accompanied by clear employment
status, adequate protection, and appropriate compensation. This study aims to
analyze how internship practices shape students’ working conditions in
financial institutions in Yogyakarta and Surakarta and to identify the forms of
vulnerability that emerge from these practices. The study employs a qualitative
approach with a comparative case study design covering the banking and
insurance sectors. Data were collected through in-depth interviews,
observation, and document analysis involving 20 student interns and management
representatives. The data were analyzed thematically using a labour regime
perspective to examine recruitment mechanisms, contracts, status, working
hours, control, evaluation, and compensation, as well as their relationship to
students’ working conditions. The findings show that, in practice, students are
involved in productive work that provides operational value to organizations.
This condition generates various forms of vulnerability, including cost
shifting, work intensity and pressure resembling those experienced by regular
workers, unequal organizational relations, weak formal protection, and physical
and psychosocial impacts. These vulnerabilities vary across sectors and types
of internships. In addition, hope labour plays a role in normalizing these
conditions. The study concludes that internship practices in financial
institutions function as a pre-formal labour regime that blurs the boundary
between students as learners and productive workers. Therefore, clearer and
fairer internship governance is needed through stronger regulation of
internship status and agreements, limitations on workload and working hours,
protection mechanisms, and proportionate compensation for students who make
productive contributions to organizations.
Kata Kunci : mahasiswa magang, kerentanan kerja, labour regime, hope labour, kondisi kerja, magang, magang mandiri, magang wajib