Bantengan Mberot: Improvisasi Budaya, Transformasi Musikal, dan Resepsi Masyarakat di Lereng Tengger
Anindita Risna Calista, Dr. Rr. Paramitha Dyah F., M.Hum.;Dr. Aton Rustandi Mulayana, M.Sn.
2026 | Tesis | S2 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa
Bantengan merupakan sebuah seni pertunjukan yang berasal dari Lereng Tengger, Kabupaten Malang, yang sedang mengalami tren kebangkitan kembali setelah sempat mati suri. Tren tersebut didorong oleh kemunculan fenomena Bantengan Mberot yang ditandai dengan bergantinya musik pengiring yang semula berupa ansambel musik tradisional menjadi musik elektronik "JJ Remix" berintensitas tinggi. Fenomena ini menegaskan ketegangan dialektis antara warisan seni tradisional dan tuntutan masyarakat kontemporer. Penelitian menggunakan metode kualitatif yang mengkaji praktik improvisasi dan transformasi musikal yang menjadi pengiring Bantengan Mberot. Penelitian ini menganalisis motivasi kreatif seniman dan proses adaptasinya, sekaligus mengevaluasi resepsi audiens, baik dalam konteks pertunjukan langsung maupun di platform media sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adopsi musik JJ Remix oleh para praktisi Bantengan Mberot merepresentasikan keputusan estetis yang bersifat rasional dan taktis, yang didorong oleh efisiensi biaya operasional, ketahanan organisasi pascapandemi, serta tuntutan untuk menjangkau demografi generasi muda dan algoritma media sosial. Hal tersebut berdampak pada cara masyarakat setempat memaknai ulang kesenian Bantengan itu sendiri sebagai sebuah kesenian yang terus berkembang. Temuan dalam penelitian ini menegaskan bahwa transformasi musikal dalam Bantengan Mberot bukan indikasi kepunahan tradisi, melainkan wujud improvisasi budaya yang generatif, relasional, temporal, dan praktis dalam merespons dinamika sosial-ekonomi serta ekosistem media digital.
Bantengan, a traditional bull-masked dance-drama native to the Lereng Tengger region of Malang Regency, has undergone a major resurgence driven by the emergence of the Bantengan Mberot phenomenon. Defined by the substitution of traditional musical ensembles with high-intensity electronic "JJ Remix" music, this movement underscores the dialectical tension between artistic heritage and contemporary market demands. Employing a qualitative research approach, this study examines the improvisational practices and musical transformations embedded within this performance shift. It analyzes artists' creative motivations and adaptation processes while evaluating audience reception across both live performance settings and social media platforms. The findings reveal that the adoption of JJ Remix music by Bantengan Mberot practitioners represents a rational and tactical aesthetic decision driven by operational cost efficiencies, post-pandemic organizational resilience, and to engage youth demographics and social media algorithms. Consequently, this adaptation has reshaped local community reinterpretations of Bantengan as an evolving art form. Ultimately, this study demonstrates that musical transformation in Bantengan Mberot does not signify the erosion of tradition; rather, it constitutes a generative, relational, temporal, and practical mode of cultural improvisation operating in response to contemporary socio-economic dynamics and the digital media ecosystem.
Kata Kunci : Bantengan Mberot, Improvisasi Budaya, Transformasi Musik, Resepsi Audiens