Interpretasi Profetik Pada Batik Lengko Babaran Gajah Mada Kabupaten Tulungagung
ONY SETYAWAN, Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa-Putra, M.A., M.Phil.; Dr. Suryo Tri Widodo, M.Hum.
2026 | Tesis | S2 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa
Batik sebagai
satu wastra yang menarasikan kandungan estetika visual dan spiritual dari Sang
Maha Agung. Pergolakan narasi interpretasi atas perkembangan pemaknaan batik
menjadi sajian menarik ketika beririsan dengan narasi keagamaan. Interpretasi
profetik menjadi salah satu upaya untuk menghadirkan cakrawala pemaknaan karya
batik tradisi-pesisiran. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan struktur dan
menginterpretasinya menggunakan paradigma profetik pada batik Lengko Babaran
Gajah Mada Tulungagung. Motif
Lengko Babaran Gajah Mada yang diproduksi oleh usaha batik Lirismanis
menjadi objek utama penelitian. Penelitian ini mengambil pakem perbatikan
dari 3 lokasi sentra perbatikan di Tulungagung, yaitu Majan, Kalangbret, dan
Bangoan. Teknik pengumpulan data melalui studi pustaka, pengamatan, dan
wawancara. Analisis data dengan cara memilah data, menginterpretasi data, dan
menentukan relasi di antara kategori data.
Penelitian ini memaparkan bahwa struktur batik Lengko Babaran Gajah Mada memiliki struktur atas motif utama lengkak-lengkok dari formasi repetitif garis zig-zag, motif pendukung berupa burung merak, kupu-kupu, dan sulur-suluran. Isen-isen utama terdiri dari cluken, delé kécér, dan cecek thir, sedangkan isen-isen selingannya berupa ungker mlanding, tasik jaluwatu, dan ungker kroto-krotoan. Warna dominannya yaitu biru (wedel) dan coklat (ndragem-sogan), sedangkan warna pengembangannya yaitu merah, kuning, hijau, dan ungu, serta warna bawaan putih dan hitam. Batik Lengko dimaknai sebagai pengingat dinamika kehidupan manusia untuk selalu mawas diri dan mengenali hakikatnya menuju pribadi satria pinandita yang berlandaskan iman, Islam, dan ihsan. Nilai ihsan diwujudkan melalui akhlakul karimah dan uswatun hasanah sebagaimana terkandung dalam Q.S. Al-Ahzab ayat 21. Keteladanan Rasulullah didasari sifat shidiq, amanah, tabligh, dan fathonah yang menjadi fondasi perilaku mulia dan kualitas batin manusia.
Batik is a traditional textile that embodies
both the visual aesthetics and the spiritual values inspired by the Almighty.
The evolving interpretations of batik have generated compelling scholarly
discourse, particularly when they intersect with religious narratives.
Prophetic interpretation offers an alternative perspective for revealing the
deeper meanings embedded in traditional of pesisiran batik. This study aims to
examine the structural composition of Batik Lengko Babaran Gajah Mada from
Tulungagung and to interpret its meanings through the prophetic paradigm. The
Lengko Babaran Gajah Mada motif produced by Lirismanis Batik serves as the
primary object of the study. The research adopts pakem (traditional batik
conventions) from three batik production centers in Tulungagung, namely Majan,
Kalangbret, and Bangoan. Data were collected through literature review,
observation, and interviews. The data were analyzed by classifying the
collected information, interpreting the findings, and identifying the relationships
among the resulting categories.
The findings reveal that the structure of Batik Lengko Babaran Gajah Mada consists of a primary motif of lengkak-lengkok formed through repetitive zigzag line compositions, accompanied by supporting motifs of peacocks, butterflies, and sulur-suluran. Its principal isen-isen include cluken, dele kecer, and cecek thir, while the complementary isen-isen consist of ungker mlanding, tasik jaluwatu, and ungker kroto-krotoan. The dominant colors are blue (wedel) and brown (ndragem sogan), complemented by developmental colors of red, yellow, green, and purple, along with the inherent colors of white and black. Batik Lengko symbolizes a reminder of the dynamic nature of human life, encouraging individuals to cultivate self-awareness and recognize their true essence in the pursuit of becoming a satria pinandita grounded in faith (iman), Islam, and ihsan. The value of ihsan is manifested through akhlakul karimah (noble character) and uswatun hasanah (exemplary conduct), as reflected in Qur'an Surah Al-Ahzab verse 21. The exemplary character of the Prophet Muhammad is founded upon the virtues of shidiq, amanah, tabligh, and fathonah, which constitute the foundation of noble conduct and the cultivation of human spiritual excellence.
Kata Kunci : Interpretasi Profetik, Lengko, Tulungagung/ Prophetic Interpretation, Lengko, Tulungagung