Pertunjukan Dangdut di Purawisata Yogyakarta: Dari Budaya Populer hingga Kritik Moral, 1989-2013
Aryaguna Daniswara, Prof. Dra. Nur Aini Setiawati, Ph.D.
2026 | Skripsi | ILMU SEJARAH
Skripsi ini membahas sejarah pertunjukan dangdut yang digelar di Purawisata di Yogyakarta pada 1989 hingga 2013 sebagai salah satu bentuk budaya populer. Secara keseluruhan, tulisan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pertunjukan tersebut hadir, berkembang, hingga berakhir salah satunya akibat kritik moral masyarakat yang menyertainya selama lebih dari dua dekade penyelenggaraan. Selain itu, tulisan ini juga bertujuan untuk menjelaskan mengapa Purawisata mendapat julukan sebagai “barometer” musik dangdut di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya pada masanya. Sebagai studi sejarah, penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah, dengan memanfaatkan berbagai sumber primer berupa media masa sezaman seperti surat kabar dan majalah serta wawancara langsung dengan mantan penyanyi pertunjukan tersebut. Sumber sekunder yang digunakan meliputi buku, artikel, dan karya ilmiah lainnya yang relevan dan sesuai dengan topik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertunjukan dangdut di Purawisata hadir sebagai respons dari pihak pengelola Purawisata terhadap masyarakat Yogyakarta yang menggemari dangdut sebagai salah satu hiburan pada akhir dekade 80-an. Selama 24 tahun berjalan dan menjadi salah satu ikon dari Purawisata, pertunjukan tersebut beroperasi dengan sistem penyelenggaraan yang matang dan terus beradaptasi, meliputi pola jadwal, sistem kerja dan mekanisme seleksi serta tingkatan penyanyi dan grup, hingga berbagai aturan yang diterapkan pihak Purawisata. Penelitian ini juga mendefinisikan klaim Purawisata sebagai “barometer” musik dangdut di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya, yang tercermin dari perannya dalam menentukan pengakuan karier bagi para penyanyi dan grup hingga menjadi tempat yang berperan penting dalam jagat industri dangdut di wilayah tersebut. Sebagai bentuk budaya populer, pertunjukan dangdut di Purawisata berakhir pada 2013 akibat berbagai faktor, salah satunya kritik moral masyarakat yang telah menyertai keberadaannya sejak lama.
This thesis examines the history of dangdut shows staged at Purawisata in Yogyakarta from 1989 to 2013 as a form of popular culture. Overall, this study aims to explains how these shows emerged, developed, and eventually came to and end, due in part to the moral criticism that accompanied it over more than two decades of its operation. In addition, this thesis seeks to explain why Purawisata came to be known as the “barometer” of dangdut music in Yogyakarta and its surrounding areas during its heyday. As a historical study, this research employs historical methods, drawing on primary sources such as contemporary mass media including newspapers and magazines, as well as direct interviews with former singers who performed there. Secondary sources used include books, articles, and other scholarly works relevant to the topic. The findings show that dangdut shows at Purawisata emerged as a response by Purawisata's management to the growing popularity of dangdut as a form of entertainment among Yogyakarta’s residents in the late 1980s. Over its 24 years of operation, becoming one of Purawisata’s defining icons, the shows operated under a well-established and continuously adapting organizational system, encompassing scheduling patterns, work systems, selection mechanisms, and tiers among singers and groups, as well as various regulations enforced by Purawisata’s management. This research further defines the claim of Purawisata as the “barometer” of dangdut music in Yogyakarta and its surrounding areas, as reflected in its role in shaping career recognition for singers and groups, as well as its significance as an important site within the region’s dangdut industry. As a form of popular culture, these shows came to and end in 2013 due to a combination of factors, one of which was the moral criticism that had long accompanied its existence.
Kata Kunci : Dangdut, Pertunjukan, Purawisata, Yogyakarta