Business Model Design of Restaurant “The Peranakan” in Kesawan Area, Medan City
Dzaki Satia Sinaga, Bayu Sutikno, S.E.,M.S.M., Ph.D
2026 | Tesis | S2 Manajemen
Kawasan Kesawan di Kota Medan merupakan koridor warisan budaya yang memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata kuliner dan edukasi. Namun, hingga saat ini belum ada restoran yang secara khusus mengangkat masakan Peranakan, yaitu perpaduan khas tradisi kuliner Tionghoa dan Melayu, sebagai konsep utamanya. Menurunnya jumlah pelaku kuliner Peranakan tradisional serta perubahan preferensi generasi muda menjadikan upaya pelestarian warisan budaya ini semakin mendesak. Penelitian ini bertujuan untuk merancang model bisnis restoran The Peranakan yang mempromosikan budaya kuliner Peranakan melalui menu tradisional, pendekatan modern, unsur edukatif, dan penyampaian cerita sejarah.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang didukung oleh metode kuantitatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam dengan dua informan kunci, serta survei kuesioner yang disebarkan kepada 35 responden yang terdiri dari mahasiswa, wisatawan domestik, dan wisatawan mancanegara. Analisis data menggunakan kerangka Business Model Canvas dan Empathy Map, serta analisis kelayakan finansial melalui proyeksi NPV, IRR, dan Payback Period.
Hasil penelitian menunjukkan adanya peluang pasar yang signifikan, di mana seluruh responden menyatakan ketertarikan terhadap pengalaman bersantap yang memiliki nilai budaya dan edukasi. Model bisnis ini melayani dua segmen pelanggan utama yaitu institusi pendidikan serta wisatawan dan pecinta kuliner, dengan proposisi nilai berupa hidangan autentik, konsep museum interaktif, penyampaian cerita terpandu, dan suasana bangunan warisan kolonial. Analisis finansial pada skenario moderat menunjukkan hasil yang positif dan layak. Konsep ini juga sejalan dengan kurikulum Merdeka Belajar, mendukung pelestarian warisan Peranakan, serta sesuai dengan agenda Kota Medan dalam mengembangkan Kesawan sebagai destinasi wisata kuliner internasional.
The Kesawan area in Medan City is a heritage corridor with significant potential as a culinary and educational tourism destination. However, no restaurant currently specializes in Peranakan cuisine, a distinctive fusion of Chinese and Malay culinary traditions, as its core concept. The declining number of traditional Peranakan culinary practitioners and the shifting preferences of younger generations have made the preservation of this cultural heritage increasingly urgent. This study aims to design a business model for The Peranakan restaurant that promotes Peranakan culinary culture through traditional menus, a modern approach, educational elements, and historical storytelling.
This study employed qualitative methods supported by quantitative methods. Data were collected through observation, in-depth interviews with two key informants, and a questionnaire survey distributed to 35 respondents comprising students, domestic tourists, and international tourists. Data analysis utilized the Business Model Canvas and Empathy Map frameworks, along with financial feasibility analysis through NPV, IRR, and Payback Period projections.
The findings indicate a significant market opportunity, with all respondents expressing interest in dining experiences that incorporate cultural and educational value. The business model serves two primary customer segments, namely educational institutions and tourists and culinary enthusiasts, with value propositions of authentic cuisine, an interactive museum concept, guided storytelling, and a colonial heritage atmosphere. Financial analysis under the moderate scenario shows positive and feasible results. The concept also aligns with the Merdeka Belajar curriculum, supports Peranakan heritage preservation, and is consistent with Medan City's agenda to develop Kesawan as an international culinary tourism destination.
Kata Kunci : Business Model, Business Model Canvas, Peranakan Restaurant, Heritage Area, Kesawan Medan, Culinary Tourism