The Everyday Ecofeminist Resistance of Barambang Katute Indigenous Women, In Sinjai, South Sulawesi
NITA AMRIANI, Dr. Samsul Maarif
2026 | Tesis | S2 Agama dan Lintas Budaya
Penelitian ini mengkaji bentuk-bentuk perlawanan sehari-hari yang dilakukan oleh perempuan adat Barambang Katute di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, terhadap proyek pertambangan emas yang dijalankan oleh PT Gelana Sumber Energi (2008-2013) dan PT Trinusa Resources (2025). Aktivitas keseharian perempuan adat, seperti bertani, memasak, menenun, dan menjaga sumber air dipahami sebagai bentuk perlawanan ekologis dan politis yang halus namun efektif. Meskipun wilayah pertambangan terletak di luar wilayah adat masyarakat Barambang Katute, mereka memandang proyek ekstraktif tersebut sebagai ancaman terhadap wilayah mereka. Tindakan-tindakan ini menjadi upaya bertahan hidup sekaligus strategi dekolonial yang berakar pada kosmologi lokal dan hubungan spiritual dengan tanah, hutan, dan air. Dengan mengacu pada teori Everyday Resistance (perlawanan sehari-hari) dari James C. Scott (1985) , Everyday Religiosity (Religiusitas Sehari-hari) dari Samsul Maarif (2019), dan Ekofeminisme dari Ambelin Kwaymullina (2018), studi ini mengusulkan konsep "perlawanan ekologis sehari-hari" untuk menjelaskan bagaimana perempuan adat melawan kapitalisme ekstraktif dan narasi "greenwashing" dalam industri pertambangan. Menggunakan pendekatan etnografi kritis, penelitian ini mengkaji pengalaman hidup perempuan serta respons mereka terhadap dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan dari pertambangan. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan analisis dokumen. Hasil penelitian diharapkan dapat menunjukkan bahwa pengetahuan lokal dan praktik keseharian perempuan adat menghasilkan alternatif keberlanjutan terhadap model ekstraksi yang destruktif. Peran mereka dalam pengasuhan, pengelolaan lahan, dan keterikatan spiritual menjadi kekuatan politik yang senyap namun konsisten dalam mempertahankan kedaulatan adat dan keadilan ekologis. Dengan menempatkan agensi perempuan adat sebagai pusat analisis, penelitian ini berkontribusi pada diskursus global mengenai keadilan lingkungan serta politik ekologis yang inklusif dan berkelanjutan.
This research examine the everyday forms of resistance carried out by indigenous women of Barambang Katute in Sinjai Regency, South Sulawesi, against gold mining projects carried out by PT Gelana Sumber Energi (2008-2013) and PT Trinusa Resources (2025). Women's daily activities, such as farming, cooking, weaving, and protecting water sources, are understood as subtle yet effective forms of ecological and political resistance. Even though the mining area lies outside the customary territory of the Barambang Katute Indigenous community, the view the extractive project as threatening their territory. These actions become both survival efforts and decolonial strategies rooted in local cosmology and spiritual relationships with land, forests, and water. Drawing on James C. Scott's (1985) theory or Everyday Resistance, Samsul Maarif (2019) Everyday Religiosity and Ambelin Kwaymullina's (2018) Ecofeminism, this study proposes the concept of "everyday ecological resistance" to explain how indigenous women resist extractive capitalism and the greenwashing narrative in the mining industry. Using a critical ethnographic approach, this study examines women's lived experiences and their responses to the social, economic, and environmental impacts of mining. Data results are expected to demonstrate that women's local knowledge and everyday practices produce sustainable alternatives to destructive extraction models. Their caregiving, land management, and spiritual engagement act as a silent yet consistent political force in maintaining indigenous sovereignty and ecological justice. By placing indigenous women's agency at the center of analysis, this study contribute to the global discourse on environmental justice and inclusive and sustainable ecological politics.
Kata Kunci : Indigenous Women, Everyday Resistance, ecofeminism, gold mining