Laporkan Masalah

Representasi Narasimha dan Triwikrama (Abad VIII-X Masehi) Di Sambirejo, Kabupaten Sleman: Ikonografi dan Latar Sosial-Budaya Pada Masa Mataram Kuno

Lintang Hapsari, Dr. Niken Wirasanti, M.Si

2026 | Skripsi | ARKEOLOGI

Representasi awatara Wisnu dalam seni arca Jawa Kuno menunjukkan penerimaan ajaran Hindu sekaligus proses penyesuaian bentuk visual dengan lingkungan budaya setempat. Salah satu bentuk representasi tersebut tampak pada arca Narasimha dan Triwikrama dari kawasan Sambirejo-Prambanan, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang berasal dari konteks masyarakat Mataram Kuno abad VIII-X Masehi. Kedua arca ini merupakan temuan lepas tanpa inskripsi penanggalan maupun keterangan mengenai patron, sehingga bentuk visualnya menjadi satu-satunya sumber utama untuk memahami makna dan latar kemunculannya. Permasalahan penelitian ini terletak perbedaan bentuk representasi ikonografis Narasimha dan Triwikrama serta keterkaitannya dengan latar sosial-budaya masyarakat yang menghasilkan dan menggunakan kedua arca tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ciri ikonografis kedua arca, menjelaskan perbedaan bentuk representasinya, dan menafsirkan latar sosial-budaya yang mendukung kemunculannya. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif-analitis dengan data berupa buku, katalog arca, laporan arkeologi, dokumentasi visual, dan informasi situs. Analisis dilakukan melalui tiga tahap pendekatan Erwin Panofsky, yaitu deskripsi pra-ikonografis, analisis ikonografis, dan interpretasi ikonologis. Unsur bentuk tubuh, sikap, gestur, hubungan antarfigur, atribut, busana, perhiasan, asana, dan komposisi dibandingkan dengan ketentuan ikonografi India, kemudian ditempatkan dalam konteks masyarakat Mataram Kuno. Hasil penelitian menunjukan bahwa Narasimha dikenali melalui tubuh manusia-singa, ekspresi garang, dan tindakan membinasakan Hiranyakasipu, sedangkan Triwikrama dikenali melalui satu kaki yang diangkat tinggi serta figur penyerta dalam sikap penghormatan. Bnetuk yang lebih ringkas daripada contoh India, terutama pengunaan dua lengan dan bentuk pengurangan tokoh pendamping, menunjukan adanya pemadatannaratif dan ekonomi visual sebagai bentuk adaptasi kreatif seniman Jawa Kuno. Pembahasan menunjukkan bahwa kedua arca merepresentasikan dua bentuk tindakan Wisnu dalam penulihan dharma: Narasimha melalui penghancuran kekuasaan sewenang-wenang dan perlindungan terhadap pemuja, sedangkan Triwikrama melalui pengukuran ruang, pembatasan kekuasaan, dan pemulihan tatanan kosmis. Kemunculan kedua arca dipengaruhi oleh faktor keagamaan, ritual, sosial, artistik, teknologi, dan lanskap keagamaan Sambirejo-Prambanan. Simbolisme politiknya berkaitan dengan gagasan perlindungan dan keteraturan, tetapi belum dapat dihubungkan secara pasti dengan penguasa tertentu. Penafsiran ini memiliki keterbatasan karena konteks  kosmologis dan hubungan kedua arca dengan pihak patron atau penguasa belum dapat ditentukan secara pasti akibat ketiadaan data prasasti pendukung.

Representations of the avatar Wisnu in Old Javanese sculpture reflect both the acceptance of Hindu teachings and the process of adapting visual forms to the local cultural environment. Examples of such representations are found in the Narasimha and Triwikrama statues from the Sambirejo-Prambanan area in the Special Region of Yogyakarta, which date back to the Old Mataram society of the 8th–10th centuries CE. As these two statues are surface finds lacking dating inscriptions or information regarding their patrons, their visual forms serve as the primary source for understanding their significance and the context of their creation. This study addresses the differences in the iconographic representation of Narasimha and Triwikrama and their relationship to the socio-cultural background of the society that produced and utilized them. The research aims to identify the iconographic characteristics of both statues, explain the differences in their representational forms, and interpret the socio cultural context underlying their creation. A qualitative, descriptive-analytical method was employed, utilizing data from books, sculpture catalogs, archaeological reports, visual documentation, and site information. The analysis followed Erwin Panofsky’s three-stage approach: pre-iconographic description, iconographic analysis, and iconological interpretation. Elements such as body form, posture, gestures, inter-figure relationships, attributes, attire, ornaments, asana (seated poses), and composition were compared against Indian iconographic standards and subsequently contextualized within Old Mataram society. The findings reveal that Narasimha is identified by his man-lion physique, ferocious expression, and the act of destroying Hiranyakasipu, whereas Triwikrama is recognized by a leg raised high and accompanying figures in poses of reverence. The forms-more concise than Indian examples, particularly regarding the use of only two arms and a reduction in attendant figures-demonstrate narrative condensation and visual economy as forms of creative adaptation by Old Javanese artists. The analysis indicates that the two images represent two modes of Wisnu’s action in restoring dharma: Narasimha, through the destruction of arbitrary power and the protection of devotees; and Triwikrama, through the measurement of space, the curtailing of power, and the restoration of cosmic order. The emergence of these images was influenced by religious, ritual, social, artistic, and technological factors, as well as the religious landscape of the Sambirejo-Prambanan area. Their political symbolism relates to concepts of protection and order, yet they cannot be definitively linked to any specific ruler. This interpretation is subject to limitations, as the chronological context and the relationship of the images to patrons or rulers remain undetermined due to the absence of supporting inscriptional data.

Kata Kunci : Ikonografi, Mataram Kuno, Narasimha, Triwikrama, Latar Sosial Budaya

  1. S1-2026-493927-abstract.pdf  
  2. S1-2026-493927-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-493927-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-493927-title.pdf