Laporkan Masalah

Ekspansi Kekuatan Ekonomi Cina: Keberadaan Belt and Road Initiative di Indonesia dalam Studi Kasus Kereta Cepat Indonesia-Cina

MUHAMMAD FIRZA AKBAR PANJAITAN, Dr. Randy Wirasta Nandyatama, S.I.P., M.Sc.

2026 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional

Belt and Road Initiative (BRI) merupakan strategi global Republik Rakyat Cina yang bertujuan memperluas konektivitas ekonomi, perdagangan, dan investasi melalui pembangunan infrastruktur di berbagai negara. Indonesia menjadi salah satu mitra utama BRI melalui proyek Kereta Cepat Indonesia–Cina (KCIC), yang dipandang tidak hanya sebagai proyek transportasi, tetapi juga sebagai instrumen strategis dalam hubungan bilateral kedua negara. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana Cina memanfaatkan BRI sebagai instrumen economic statecraft melalui proyek KCIC serta implikasinya terhadap hubungan interdependensi antara Indonesia dan Cina. Penelitian menggunakan konsep economic statecraft dari Norris yang menekankan tiga indikator utama, yaitu intentionality, manipulation of incentive structures, dan state control, serta konsep complex interdependence dari Keohane dan Nye untuk menjelaskan pola saling ketergantungan yang terbentuk. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka melalui analisis berbagai sumber sekunder, seperti buku, artikel ilmiah, dokumen resmi pemerintah, laporan lembaga internasional, dan publikasi media. Hasil analisis menunjukkan bahwa proyek KCIC merupakan manifestasi economic statecraft Cina melalui penyediaan pembiayaan kompetitif, dukungan teknologi, serta keterlibatan perusahaan dan lembaga keuangan milik negara yang diarahkan untuk mencapai kepentingan strategis nasional. Di sisi lain, kerja sama ini menciptakan hubungan interdependensi kompleks yang melibatkan berbagai aktor negara dan nonnegara, dengan isu ekonomi lebih dominan dibanding isu keamanan serta minimnya penggunaan instrumen militer. Namun, hubungan tersebut bersifat asimetris karena Indonesia memiliki tingkat ketergantungan yang lebih tinggi terhadap Cina, terutama dalam aspek pembiayaan dan teknologi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa BRI, melalui proyek KCIC, tidak hanya berfungsi sebagai instrumen pembangunan infrastruktur, tetapi juga sebagai sarana ekspansi pengaruh ekonomi dan geopolitik Cina di Indonesia.

The Belt and Road Initiative (BRI) is the People's Republic of China's global strategy aimed at enhancing economic connectivity, trade, and investment through infrastructure development across participating countries. Indonesia has become one of the key BRI partners through the Jakarta–Bandung High-Speed Railway (Kereta Cepat Indonesia–China/KCIC) project, which represents not only a transportation initiative but also a strategic instrument in bilateral relations between Indonesia and China. This study examines how China utilizes the BRI as an instrument of economic statecraft through the KCIC project and explores its implications for the interdependent relationship between Indonesia and China. The research employs Norris's concept of economic statecraft, which emphasizes three key indicators: intentionality, manipulation of incentive structures, and state control, alongside Keohane and Nye's concept of complex interdependence to explain the patterns of mutual dependence generated by the project. This study adopts a qualitative research design using a literature review approach, drawing on secondary sources such as books, scholarly articles, government documents, reports from international institutions, and reputable media publications. The findings indicate that the KCIC project represents a manifestation of China's economic statecraft through the provision of competitive financing, technological support, and the involvement of state-owned enterprises and policy banks to advance its national strategic interests. At the same time, the project has created a relationship of complex interdependence involving both state and non-state actors, where economic issues are more prominent than security concerns and military instruments play a minimal role. However, this interdependence remains asymmetrical, as Indonesia demonstrates a higher level of dependence on China, particularly in terms of financing and technology. The study concludes that the BRI, through the KCIC project, functions not only as an infrastructure development initiative but also as a strategic instrument for expanding China's economic and geopolitical influence in Indonesia.

Kata Kunci : Cina, Indonesia, Belt and Road Initiative, Investasi, KCIC

  1. S1-2026-462800-abstract.pdf  
  2. S1-2026-462800-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-462800-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-462800-title.pdf