Laporkan Masalah

Stand Up Comedy: Alternatif Gerakan Sosial Baru Dalam Memperkuat Kualitas Demokrasi di Indonesia

Muhammad Ryan Syabani, Dr. Ratnawati, S.U.

2026 | Skripsi | ILMU PEMERINTAHAN

Penelitian ini didasari oleh adanya kesenjangan antara jaminan konstitusional kebebasan berpendapat dengan peningkatan ancaman kriminalisasi melalui pasal-pasal multitafsir dalam KUHP dan UU ITE yang berkontribusi pada mundurnya kualitas demokrasi di Indonesia. Kondisi tersebut mendorong masyarakat untuk menemukan medium alternatif yang lebih aman untuk mengartikulasikan keresahan sosial. Stand up comedy hadir sebagai bentuk kebebasan berpendapat yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga telah bergeser menjadi ruang penyampaian kritik sosial dan aspirasi publik. Melalui komunitas yang dibangun para komika, lanskap tawa bertransformasi menjadi gerakan sosial baru melalui pemanfaatan teknik-teknik komedi untuk menggugah kesadaran publik secara kolektif dengan tujuan memperoleh kembali hak atas kebebasan berpendapat di ruang publik. Untuk memastikan stand up comedy sebagai sebuah gerakan, penelitian ini berfokus pada analisis pembentukan, strategi gerakan, dan pengaruhnya dalam menciptakan ruang publik alternatif melalui media digital.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui studi kasus intrinsik. Data penelitian dihimpun melalui wawancara mendalam dengan informan yang berasal dari komedian, peneliti humor, dan penonton komedi. Data primer didukung dengan observasi konten stand up comedy pada platform media digital serta pelacakan dokumen tekstual sebagai data sekunder. Seluruh data kemudian diolah menggunakan teknik analisis deskriptif-kualitatif untuk menginterpretasikan pola-pola gerakan dan narasi kritik yang dihasilkan.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa stand up comedy di Indonesia memenuhi syarat terbentuknya gerakan sosial baru yang diidentifikasi melalui ideologi, taktik pengorganisasian, struktur, dan aktor dan partisipannya. Penelitian ini menemukan bahwa stand up comedy sebagai lanskap tawa tidak hanya bertujuan untuk membuat audiens tertawa, tetapi juga untuk berpikir, berefleksi, dan berpartisipasi dalam perubahan sosial. Pergeserannya ke platform digital sebagai panggung alternatif menciptakan arena publik baru yang yang demokratis, partisipatif, dan inklusif, sehingga mampu memobilisasi kesadaran maupun opini publik secara lebih luas.

Secara praktis, temuan ini memperkaya literatur mengenai bagaimana aktor non-formal dapat memperluas ruang demokrasi melalui kritik yang khas. Meski demikian, studi ini masih memiliki keterbatasan dalam melihat aspek dampak gerakan dan partisipasi publik karena berangkat dari sudut pandang pada sisi "produsen" (komika) dan "teks" (materi komedi). Namun, belum mengukur secara mendalam dampak atau penerimaan penonton.

This research is driven by the gap between constitutional guarantees of freedom of speech and the rising threat of criminalization through ambiguous clauses in the Criminal Code (KUHP) and the ITE Law, which have contributed to the decline of democracy in Indonesia. These conditions have pushed the public to seek safer, alternative media to articulate social grievances. Stand-up comedy has emerged as a form of free expression that functions not only as entertainment but also as a space for social critique and public aspiration. Through the community built by comics, the "laughscape" has transformed into a new social movement, using comedic techniques to stir collective public awareness and reclaim the right to free speech in the public sphere. To establish stand-up comedy as a movement, this study focuses on analyzing its formation, movement strategies, and its influence in creating alternative public spaces via digital media.

This study employs a qualitative approach through an intrinsic case study. Data were gathered through in-depth interviews with informants, including comedians, humor researchers, and comedy audiences. Primary data are supported by observations of stand-up comedy content on digital media platforms and secondary data from textual document tracking. All data were processed using descriptive-qualitative analysis to interpret movement patterns and the resulting critical narratives.

The findings indicate that stand-up comedy in Indonesia meets the criteria of a new social movement, identified through its ideology, organizational tactics, structure, and active participants. This research finds that stand-up comedy, as a "laughscape," aims not only to make audiences laugh but also to encourage them to think, reflect, and participate in social change. Its shift to digital platforms as an alternative stage has created a new democratic, participatory, and inclusive public arena, capable of mobilizing public awareness and opinion on a broader scale.

These findings contribute to the literature on the capacity of non-formal actors to expand democratic spaces through distinctive forms of critique. However, the study is limited in its assessment of the impact on movement and public participation, as it primarily examines the "producers" (comedians) and the "texts" (comedy material) without extensively measuring audience reception or long-term effects.

Kata Kunci : Stand up comedy, gerakan sosial baru, arena publik baru, demokrasi

  1. S1-2026-480141-abstract.pdf  
  2. S1-2026-480141-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-480141-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-480141-title.pdf