Bodor: Interaksi Sosial dalam Pertunjukan Bajidoran
Rusnandi, Dr. Rr. Paramitha Dyah Fitriasari., M.Hum ; Dr. Aton Rustandi Mulyana, M.Sn.
2026 | Tesis | S2 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa
Panggung kesenian Bajidoran tidak sekadar berfungsi sebagai ruang presentasi estetis, melainkan sebuah arena performatif tempat identitas, relasi sosial, dan makna budaya dinegosiasikan secara kolektif melalui fenomena humor (bodor) yang mentransformasi ruang pertunjukan menjadi lebih egaliter. Melalui teori Performance Studies dari Richard Schechner, pertunjukan ini dibedah sebagai ruang yang mencairkan sekat sosial lewat perilaku yang dihadirkan kembali (restored behavior), yang kemudian diperkuat oleh teori Humor Theories and the Physiological Benefits of Laughter dari Julia Wilkins dan Amy Janel Eisenbraun untuk membedah bagaimana pelepasan tawa secara fisiologis dan psikologis mampu mereduksi ketegangan serta menstimulasi katarsis emosional secara kolektif, sementara melalui teori Interaksionisme Simbolik dari Herbert Blumer, bodor dianalisis sebagai proses konstruksi makna yang lahir dari interaksi simbolik antara pelaku seni (sinden, penari, pemusik) dan penonton (bajidor). Metode penelitian menggunakan metode kualitatif dengan melalui observasi partisipatif, dokumentasi, dan wawancara mendalam, hasil penelitian menunjukkan bahwa bodor termanifestasi dalam empat bentuk, yaitu verbal, gestural, instrumen, dan situasional. Perspektif integratif yang digunakan memiliki kehadiran humor yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan rekreatif, melainkan sebagai mekanisme dialogis dua arah yang meruntuhkan hierarki sosial, membangun solidaritas komunal, serta menegaskan identitas kultural masyarakat Sunda yang ramah (someah) dan inklusif di era modern.
The Bajidoran arts stage functions not merely as a space for aesthetic presentation, but as a performative arena where identity, social relations, and cultural meaning are collectively negotiated through the phenomenon of humor (bodor), which transforms the performance space into a more egalitarian one. Drawing on Richard Schechner’s theory of Performance Studies, this performance is analyzed as a space that dissolves social barriers through “restored behavior,” a concept further reinforced by Julia Wilkins and Amy Janel Eisenbraun’s theories on humor and the physiological benefits of laughter to examine how the physiological and psychological release of laughter can reduce tension and stimulate collective emotional catharsis, while through Herbert Blumer’s Symbolic Interactionism, bodor is analyzed as a process of meaning construction arising from symbolic interaction between the performers (sinden, dancers, musicians) and the audience (bajidor). The research employed a qualitative approach through participatory observation, documentation, and in-depth interviews. The findings reveal that bodor manifests in four forms: verbal, gestural, instrumental, and situational. The integrative perspective adopted views humor as serving not only as recreational entertainment but also as a two-way dialogic mechanism that breaks down social hierarchies, builds communal solidarity, and affirms identity.
Kata Kunci : Bodor, Sunda, Interaksi Sosial, Bajidoran, Performance Studies, Humor Theories, Interaksionisme Simbolik.