Laporkan Masalah

CITRA PROFESI PETANI DAN NILAI DADI WONG DALAM KELUARGA PETANI JAWA DI KALURAHAN JOGOTIRTO KAPANEWON BERBAH KABUPATEN SLEMAN

Alexandros Candra Febrian, Prof. Subejo, S.P., M.Sc., Ph.D.

2026 | Skripsi | PENYULUHAN & KOMUNIKASI PERTANIAN

Fenomena aging farmer dan rendahnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian menjadi permasalahan krusial yang tidak hanya dipengaruhi oleh faktor ekonomi, tetapi juga konstruksi sosial-budaya dan arus informasi digital. Dalam konteks ini, keluarga petani, khususnya orang tua, memegang peran penting dalam membentuk preferensi pekerjaan anak. Paparan konten media sosial yang menampilkan beragam citra profesi petani serta pemaknaan nilai dadi wong dalam budaya Jawa turut mempengaruhi harapan orang tua terhadap masa depan anak-anak mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi citra profesi petani dan pemaknaan nilai dadi wong dalam keluarga petani Jawa serta kaitannya dengan pilihan pekerjaan anak dan suksesi pertanian. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus di Kalurahan Jogotirto, Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur, observasi, dan dokumentasi dengan melibatkan keluarga petani sebagai informan utama. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan metode, sementara analisis data dilakukan menggunakan pendekatan Miles dan Huberman dengan bantuan perangkat lunak NVivo 15. Hasil penelitian menunjukkan bahwa citra profesi petani terbentuk dari dua sumber utama, yaitu paparan media sosial dan pengalaman empiris. Media sosial membangun citra petani sebagai profesi modern dan berpotensi sukses, tetapi pengalaman nyata tetap mempertahankan citra petani sebagai pekerjaan yang berat dan tidak pasti. Nilai dadi wong dalam keluarga petani dimaknai sebagai keberhasilan hidup yang bersifat holistik, tidak hanya berorientasi pada aspek ekonomi saja. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa kedua aspek tersebut mendorong orang tua tani untuk cenderung mengarahkan anak agar bekerja di luar sektor pertanian, dengan menempatkan profesi petani sebagai pekerjaan sampingan. Kondisi ini berimplikasi pada melemahnya suksesi pertanian dalam keluarga petani.

The phenomenon of aging farmers and the declining interest of younger generations in the agricultural sector has become a critical issue, driven not only by economic factors but also by socio-cultural constructions and the growing influence of digital information flows. In this context, farming families, particularly parents, play a significant role in shaping their children’s career preferences. Exposure to social media content portraying various images of the farming profession, along with the interpretation of the dadi wong value in Javanese culture, influences parental expectations regarding their children’s future. This study aims to analyze the construction of the farming profession’s image and the meaning of dadi wong within Javanese farming families, as well as their relationship to children’s career choices and agricultural succession. The research employs a qualitative approach using a case study method in Jogotirto Village, Berbah Sub-district, Sleman Regency. Data were collected through in-depth semi-structured interviews, observation, and documentation involving farming families as the main informants. Data validity was ensured through source and method triangulation, while analysis was conducted using the Miles and Huberman approach supported by NVivo 15 software. The findings reveal that the image of the farming profession is constructed from two main sources: social media exposure and empirical experience. Social media tends to portray farming as a modern and potentially successful profession; however, real-life experiences continue to reinforce its image as labor-intensive and uncertain. Meanwhile, the value of dadi wong is understood as a holistic life achievement that goes beyond economic aspects. These findings indicate that both factors lead parents to encourage their children to pursue non-agricultural careers, positioning farming as a secondary occupation. This condition contributes to the weakening of agricultural succession within farming families. 

Kata Kunci : Citra Profesi Petani, Nilai Dadi Wong, Keluarga Petani, Konten Media Sosial, Suksesi Pertanian

  1. S1-2026-497063-abstract.pdf  
  2. S1-2026-497063-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-497063-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-497063-title.pdf