Laporkan Masalah

NEGOSIASI IDENTITAS: STUDI FENOMENOLOGI PENARI DANCE COVER K-POP BERJILBAB DI YOGYAKARTA

Naura Izdihaar Hanifa, Derajad Sulistyo Widhyharto, S.Sos., M.Si.

2026 | Skripsi | Sosiologi

Berkembang pesatnya Hallyu Wave menciptakan berbagai tren bagi para penggemar K-Pop di Indonesia. Salah satunya adalah praktik dance cover yang merupakan kegiatan menirukan koreografi yang dibawakan oleh idola K-Pop. Penelitian ini berfokus pada praktik dance cover yang dilakukan oleh penari berjilbab di Yogyakarta, yang kerap mendapatkan berbagai respon sosial akibat adanya stereotip perempuan berjilbab maupun stereotip seorang penari. Sehingga kehadiran penari berjilbab dalam praktik ini menciptakan ketegangan antara dua identitas yang dianggap kontras. Tujuan dari penelitian ini adalah memahami bagaimana pengalaman para penari berjilbab dalam melaksanakan dance cover dan pemaknaan mereka dalam penggunaan jilbab. Penerlitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi untuk menggali dinamika pengalaman para informan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan penari dance cover berjilbab di Yogyakarta. Posisi peneliti, yang juga merupakan penari berjilbab, memberikan keuntungan dalam memahami konteks dan pengalaman informan secara lebih mendalam, dengan tetap menjaga sikap sebagai peneliti dalam proses analisis. Hasil penelitian menunjukkan strategi para penari dalam menanggapi respon sosial yang kontra terhadap penampilan mereka. Strategi-strategi tersebut sejalan dengan teori negosiasi identitas milik Swann dan Bosson yang menyebutkan 4 prinsip dalam melaksanakan negosiasi identitas. Keempat prinsip tersebut berupa clarity, cooperation, continuity, dan compatibility. Dengan 4 prinsip tersebut menunjukkan bagaimana para penari memiliki identitas yang kuat. Para penari memiliki fokus dan tujuan yang jelas pada praktik mereka, serta porsi dan prioritas akan agama dan hobi yang seimbang. Hal ini terlihat dari adanya batasan dalam pemilihan kostum, gerakan koreografi, hingga lagu yang dibawakan melalui proses pemilihan agar tetap selaras dengan identitas yang mereka yakini. Meski demikian, peluang munculnya respon negatif masih tetap ada dikarenakan hadirnya penari berjilbab pada panggung pertunjukkan masih relatif sedikit. Sehingga menimbulkan pandangan yang tidak lazim bagi sebagian penonton.

Berkembang pesatnya Hallyu Wave menciptakan berbagai tren bagi para penggemar K-Pop di Indonesia. Salah satunya adalah praktik dance cover yang merupakan kegiatan menirukan koreografi yang dibawakan oleh idola K-Pop. Penelitian ini berfokus pada praktik dance cover yang dilakukan oleh penari berjilbab di Yogyakarta, yang kerap mendapatkan berbagai respon sosial akibat adanya stereotip perempuan berjilbab maupun stereotip seorang penari. Sehingga kehadiran penari berjilbab dalam praktik ini menciptakan ketegangan antara dua identitas yang dianggap kontras. Tujuan dari penelitian ini adalah memahami bagaimana pengalaman para penari berjilbab dalam melaksanakan dance cover dan pemaknaan mereka dalam penggunaan jilbab. Penerlitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi untuk menggali dinamika pengalaman para informan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan penari dance cover berjilbab di Yogyakarta. Posisi peneliti, yang juga merupakan penari berjilbab, memberikan keuntungan dalam memahami konteks dan pengalaman informan secara lebih mendalam, dengan tetap menjaga sikap sebagai peneliti dalam proses analisis. Hasil penelitian menunjukkan strategi para penari dalam menanggapi respon sosial yang kontra terhadap penampilan mereka. Strategi-strategi tersebut sejalan dengan teori negosiasi identitas milik Swann dan Bosson yang menyebutkan 4 prinsip dalam melaksanakan negosiasi identitas. Keempat prinsip tersebut berupa clarity, cooperation, continuity, dan compatibility. Dengan 4 prinsip tersebut menunjukkan bagaimana para penari memiliki identitas yang kuat. Para penari memiliki fokus dan tujuan yang jelas pada praktik mereka, serta porsi dan prioritas akan agama dan hobi yang seimbang. Hal ini terlihat dari adanya batasan dalam pemilihan kostum, gerakan koreografi, hingga lagu yang dibawakan melalui proses pemilihan agar tetap selaras dengan identitas yang mereka yakini. Meski demikian, peluang munculnya respon negatif masih tetap ada dikarenakan hadirnya penari berjilbab pada panggung pertunjukkan masih relatif sedikit. Sehingga menimbulkan pandangan yang tidak lazim bagi sebagian penonton.

Kata Kunci : Negosiasi Identitas, Dance Cover, Penari Berjilbab, Identitas, Stereotip

  1. S1-2026-480892-abstract.pdf  
  2. S1-2026-480892-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-480892-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-480892-title.pdf