Perancangan Tebal Perkerasan Kaku Simpang Banyurejo Tol Yogyakarta-Bawen: Studi Komparasi Metode Austroads 2024 dan MDPJ 2024 Dengan Analisis Respons Struktural KENSLABS
Pramudya Nur Ananta, Ir. M. Rizka Fahmi Amrozi, S.T., M.Sc., Ph.D.
2026 | Skripsi | TEKNIK SIPIL
Simpang Banyurejo merupakan salah satu simpang pada proyek Jalan Tol
Yogyakarta – Bawen Seksi 1 yang mengemban fungsi krusial sebagai simpul
konektivitas antara jaringan tol dan jalan arteri. Karakteristik pembebanan
pada area simpang yang didominasi oleh pergerakan lambat, pengereman, dan
antrean kendaraan berat menyebabkan ruas ini menerima repetisi beban paling
intensif, sehingga dipilih perkerasan kaku (rigid pavement) sebagai
solusi teknis yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tebal lapis
perkerasan kaku pada Simpang Banyurejo menggunakan metode MDPJ 2024 dan
Austroads 2024, membandingkan perancangan kedua metode dengan perkerasan
eksisting, serta melakukan verifikasi struktural menggunakan program KENSLABS.
Data yang digunakan merupakan data sekunder yang diperoleh dari PT
Jasamarga Jogja – Bawen dan PT Adhi Karya , meliputi lalu lintas harian
rata-rata (LHR), data konfigurasi beban kendaraan, nilai CBR tanah dasar, dan
karakteristik geometri jalan. Perancangan dilakukan melalui pendekatan
mekanistik-empiris dengan parameter material utama berupa mutu beton fc’ = 40
MPa (fcf = 4,743 MPa) dan nilai CBR efektif sebesar 75. Analisis respons
struktural dilakukan menggunakan program KENSLABS dengan kondisi corner loading
yang merepresentasikan skenario pembebanan paling kritis pada perkerasan
kaku.
Hasil perancangan menunjukkan metode MDPJ 2024 menghasilkan tebal
pelat beton sebesar 340 mm dengan total kerusakan fatigue 0?n erosi
98,59%, sedangkan metode Austroads 2024 menghasilkan tebal pelat sebesar 270 mm
dengan total kerusakan fatigue 0?n erosi 44%. Kedua hasil perancangan
memenuhi kriteria keamanan struktural (total kerusakan ? 100%). Hasil verifikasi KENSLABS menunjukkan
nilai stress ratio (Sc) sebesar 0,079 untuk metode MDPJ 2024 dan 0,116
untuk metode Austroads 2024, keduanya berada di bawah batas kritis Sc = 0,45.
Perbedaan tebal pelat sebesar 70 mm antara kedua metode mencerminkan perbedaan
pendekatan dan adaptasi terhadap kondisi lingkungan lokal, di mana MDPJ 2024
menghasilkan desain yang lebih konservatif dengan margin keamanan yang lebih
besar dan lebih sesuai untuk kondisi iklim Indonesia yang memiliki curah hujan
tinggi.
Banyurejo Interchange is a critical interchange on the
Yogyakarta–Bawen Toll Road Section 1, serving as a connectivity node between
the toll network and arterial roads. The loading characteristics of the
interchange area, dominated by slow movement, braking, and heavy vehicle
queuing, cause this section to receive the most intense load repetitions,
making rigid pavement the appropriate technical solution. This study aims to
determine the rigid pavement thickness at Banyurejo Interchange using the MDPJ
2024 and Austroads 2024 methods, compare the results of both methods with the
existing pavement, and perform structural verification using the KENSLABS
program.
The data used in this study are secondary data obtained
from PT Jasamarga Jogja–Bawen and PT Adhi Karya, including average daily
traffic (ADT), vehicle load configuration data, subgrade CBR values, and road
geometry characteristics. The design was carried out using a
mechanistic-empirical approach with primary material parameters of concrete
compressive strength fc' = 40 MPa (flexural strength fcf = 4.743 MPa) and an
effective CBR value of 75. Structural verification was performed using the
KENSLABS program under corner loading conditions, which represents the most
critical loading scenario for rigid pavement.
The design results show that the MDPJ 2024 method
produces a concrete slab thickness of 340 mm with total fatigue damage of 0%
and erosion of 98.59%, while the Austroads 2024 method produces a slab
thickness of 270 mm with total fatigue damage of 0% and erosion of 44%. Both
design results meet the structural safety criteria (total damage ? 100%).
KENSLABS verification results show a stress ratio (Sc) of 0.079 for the MDPJ
2024 method and 0.116 for the Austroads 2024 method, both below the critical
limit of Sc = 0.45. The 70 mm difference in slab thickness between the two
methods reflects different approaches and adaptations to local environmental
conditions, where MDPJ 2024 produces a more conservative design with a larger
safety margin, making it more suitable for Indonesia's high-rainfall climate
conditions.
Kata Kunci : Perkerasan kaku, MDPJ 2024, Austroads 2024, KENSLABS, Simpang Banyurejo