Representasi Unsur Buddhisme Dalam Manga Naruto: Kajian Semiotika Peirce Dalam Konteks Sekularisasi Budaya
Vessantara Dhiraka Dharma, Lili Febriyani, S.S., M.Si.
2026 | Skripsi | SASTRA JEPANG
Penelitian ini membahas representasi unsur-unsur Buddhisme dalam Manga Naruto karya Masashi Kishimoto sebagai bagian dari budaya populer Jepang. Naruto merupakan salah satu manga paling populer di dunia yang tidak hanya menyajikan narasi kepahlawanan, tetapi juga memanfaatkan simbol-simbol dan konsep filosofis Timur sebagai elemen pembentuk dunia fiksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana unsur-unsur simbolik Buddhisme direpresentasikan, ditransformasikan, dan dimaknai ulang dalam konteks budaya populer modern.
Penelitian ini menggunakan dua kerangka teori utama, yaitu semiotika Charles Sanders Peirce dan teori sekularisasi budaya. Semiotika Peirce digunakan untuk menganalisis hubungan antara representamen, object, dan Interpretant dalam tanda-tanda visual maupun naratif, sedangkan teori sekularisasi budaya digunakan untuk menganalisis transformasi makna berdasarkan hasil analisis semiotika dalam konteks budaya populer. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, dengan data berupa panel manga, databook resmi, serta literatur pendukung.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat enam belas unsur Buddhisme yang direpresentasikan dalam Naruto. Unsur-unsur tersebut mengalami transformasi makna dalam proses adaptasi ke budaya populer, di mana fungsi religius dan normatifnya mengalami pelepasan, namun jejak konseptual dan simboliknya tetap dipertahankan. Transformasi ini mencerminkan proses detradisionalisasi, rekontekstualisasi, dan pembentukan cultural memory sebagai bentuk sekularisasi budaya dalam media populer.
This research examines the representation of Buddhist elements in the Manga Naruto by Masashi Kishimoto as part of Japanese popular culture. Naruto is one of the most popular manga series in the world, which not only presents heroic narratives but also incorporates symbols and Eastern philosophical concepts as elements that shape its fictional world. This study aims to reveal how symbolic elements of Buddhism are represented, transformed, and reinterpreted within the context of modern popular culture.
This research employs two main theoretical frameworks: Charles Sanders Peirce’s semiotics and the theory of cultural secularization. Peircean semiotics is used to analyze the relationship between representamen, object, and Interpretant in visual and narrative signs, while the theory of cultural secularization is applied to examine transformations of meaning based on the results of the semiotic analysis within the context of popular culture. The research method used is descriptive qualitative with a literature-based approach, utilizing data in the form of manga panels, official databooks, and supporting scholarly literature.
The findings indicate that there are sixteen Buddhist elements represented in Naruto. These elements undergo transformations of meaning in the process of adaptation into popular culture, in which their religious and normative functions are detached, while their conceptual and symbolic traces are retained. This transformation reflects processes of detraditionalization, recontextualization, and the formation of cultural memory as forms of cultural secularization in popular media.
Kata Kunci : buddhisme, semiotika peirce, sekularisasi budaya, naruto