Laporkan Masalah

Terperangkap dalam Legitimasi Kekerasan Budaya: Joki Cilik Pacuan Kuda (Pacoa Jara) di Bima

Anugerah Rinaldi, Dr. Realisa Darathea Masardi, S.Ant., M.A.

2026 | Tesis | S2 Antropologi

Di Bima, Nusa Tenggara Barat, ada sebuah praktik kebudayaan pacuan kuda tradisional (Pacoa Jara) yang menggunakan anak-anak sebagai joki penunggang kudanya (juki). Muncul perdebatan terkait hal tersebut, karena disinyalir menjadi salah satu bentuk eksploitasi terhadap anak. Wilayah Bima serta masyarakat Bima sendiri secara historis dan ekologis sangat dekat dengan kuda. Pacoa Jara juga sudah dilaksanakan secara turun-temurun.


Penelitian ini menggunakan metode etnografi dengan teknik pengumpulan data observasi-partisipasi dan wawancara sambil lalu serta wawancara mendalam selama 54 (lima puluh empat) hari di Kota Bima dan Kabupaten Bima pada tanggal 31 Januari 2025 sampai dengan 25 Maret 2025. Studi literatur, studi arsip, dan dokumentasi juga dilakukan sebagai sumber sekunder pelengkap data. Penelitian ini bertujuan untuk memotret, mendeskripsikan, dan menganalisis berbagai bentuk kekerasan dalam praktik Pacoa Jara, serta menganalisis faktor-faktor yang berperan dalam melanggengkan berbagai bentuk kekerasan yang terjadi dalam Pacoa Jara.


Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, ada bentuk-bentuk kekerasan yang terjadi dalam Pacoa Jara, yakni bahwa kekerasan terjadi secara berlapis dan dilakukan oleh berbagai macam aktor melalui direct violence atau kekerasan langsung dan structural violence atau kekerasan struktural. Juki merupakan aktor yang paling buncit, sehingga telah terjadi pengabaian atas berbagai hak yang seharusnya dapat mereka peroleh, termasuk risiko cedera hingga meninggal dunia.


Kedua, hasil penelitian memberikan gambaran bahwa Pacoa Jara menggunakan anak sebagai joki dan masih dipertahankan oleh para aktor yang ada karena adanya narasi-narasi legitimasi cultural violence atau kekerasan budaya dan proses hegemoni di dalamnya. Kekerasan budaya muncul secara halus dan tidak disadari melalui (1) implementasi simbol ‘kebudayaan’; (2) didorongnya rasa berani; (3) adanya prestasi dan penghargaan, dan (4) dimunculkannya berbagai kampanye-iklan, film, dan konten. Hal yang kemudian terjadi adalah bahwa di Pacoa Jara telah terjadi penegasian berbagai kekerasan terhadap juki, bahkan memunculkan pembajakan kesadaran bahwa tidak ada kekerasan di Pacoa Jara.


In Bima, Nusa Tenggara Barat, there is a traditional horse-racing practice (Pacoa Jara) making use of children as jockeys (juki). Debates regarding this issue come up due to the supposedly one of child exploitation practices. Historically and ecologically, the region of Bima and the life of its people are closely attached to horses. The practices of Pacoa Jara have been passed down through generation.


The current research employed ethnographic method with participant observation, casual interviews, and in-depth interviews as the techniques of data collection for 54 (fifty-four) days in Kota Bima and Kabupaten Bima, from January 31, 2025, to March 25, 2025. Literature review, archival studies, and documentation were also used as secondary sources to supplement the data. While also observing research ethics, the current thesis aims at portraying, describing, and analysing various forms of violence in the practices Pacoa Jara; further, it also attempts to analyse some factors contributing to the perpetuation of various forms of violence occurring in Pacoa Jara.


Research result demonstrates that first, there are multiple forms of violence occurring in Pacoa Jara. The violence occurs in layers and is perpetrated by various actors through direct violence and structural violence. Juki is the most vulnerable victim; hence, there has been negligence towards juki’s rights as children bringing about injury and death.


Second, research result reveals that Pacoa Jara employs children as jockeys and is still maintained by various actors due to the legitimation of narratives of cultural violence and hegemony process in it. Cultural violence has emerged in a subtle way and unnoticed through (1) implementation of symbol of culture; (2) encouragement to be brave; (3) availability of achievement and reward, and (4) productions of campaigns-ads, films, and contents related to Pacoa Jara. What subsequently occurs is that there has been negation towards various forms of violence to juki which gives rise to a consciousness hijacking that there is no violence in Pacoa Jara.

Kata Kunci : Pacoa Jara, Bima, Juki, Kekerasan Budaya, Hegemoni

  1. S2-2026-530081-abstract.pdf  
  2. S2-2026-530081-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-530081-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-530081-title.pdf