Perjalanan Kehidupan: Kapabilitas Wisatawan dengan Gangguan Mental
Hanif Aflah, Dr. Mohamad Yusuf, M.A.
2026 | Skripsi | PARIWISATA
Minimnya pengetahuan dan pemahaman mengenai isu wisatawan dengan gangguan mental menjadi gap besar dalam industri pariwisata untuk merespon kebutuhan dan keinginan wisatawan dengan gangguan mental. Maka dari itu, industri pariwisata belum mampu merespon isu wisatawan dengan gangguan mental dengan tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi batasan berwisata, baik intrapersonal, interpersonal, maupun struktural, dan negosiasi batasan berwisata tersebut, baik strategi perilaku maupun pikiran. Dengan begitu, penelitian ini mampu menjadi data empiris mengenai fenomena wisatawan dengan gangguan mental dalam pariwisata. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi menggunakan metode wawancara bersama partisipan dengan berbagai diagnosis gangguan mental, mulai dari gangguan bipolar, gangguan depresi mayor, gangguan stres pascatrauma, gangguan kepribadian paranoid, dan gangguan kepribadian ambang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wisatawan dengan gangguan mental mampu menegosiasikan berbagai batasan intrapersonal, interpersonal, dan struktural. Sebagian besar batasan bersumber dari batasan intrapersonal atau batasan dari dalam diri sendiri. Namun, sumber daya dan faktor konversi wisatawan dengan gangguan mental pun bersumber dari dalam diri sendiri. Selain itu, ditemukan pula bahwa partisipan dengan latar belakang pendidikan psikologi mampu menimalkan dampak negatif batasan, sedangkan partisipan lain tanpa latar belakang pendidikan psikologi berfokus pada memaksimalkan pengalaman berwisata. Dengan demikian, wisatawan dengan gangguan mental memiliki kapabilitas untuk berpartisipasi dalam aktivitas pariwisata.
The lack of knowledge and understanding concerning the issue of tourists with mental disorders shows a significant gap in the tourism industry's ability to respond to the needs and desires of tourists with mental disorders. Consequently, the tourism industry has not been able to sufficiently address the issue of tourists with mental disorders. This study aims to identify travel constraints, including intrapersonal, interpersonal, and structural constraints, and the negotiation of these constraints, both behaviour and cognitive strategies. This study provides empirical data on the phenomenon of tourists with mental disorders in tourism. This is a qualitative study with a phenomenological approach using interviews with participants with various mental disorder diagnoses, including bipolar disorder, major depressive disorder, post-traumatic stress disorder, paranoid personality disorder, and borderline personality disorder. The results show that tourists with mental disorders are able to negotiate various intrapersonal, interpersonal, and structural constraints. Most of these constraints come from intrapersonal or internal boundaries. However, resources and conversion factors for tourists with mental disorders also come from within themselves. Furthermore, it was found that participants with a psychology education background were able to minimize the negative impact of these constraints, while others without a psychology education background focused to maximize the travel experience. Thus, tourists with mental disorders have the capability to participate in tourism activities.
Kata Kunci : batasan, negosiasi, kapabilitas, wisatawan, gangguan mental