Laporkan Masalah

Tiang Tuo sebagai Wujud Kesadaran Transenden dalam Budaya Berhuni Masyarakat Adat Kanagorian Sentajo Provinsi Riau

Gun Faisal, Prof. Ir. Tarcicius Yoyok Wahyu Subroto, M.Eng., Ph.D., IPU. ; Dr. Ir. Dwita Hadi Rahmi, M.A

2026 | Disertasi | S3 Teknik Arsitektur

Koto merupakan sebuah lanskap permukiman pada wilayah bukit di pinggiran sungai Kuantan, menjadi pusat pemerintahan dan pusat sebuah negeri di mana pemimpin adat berkedudukan. Terdapat beberapa koto di sepanjang sungai Kuantan yang disebut dengan istilah 'Negeri (nan) Kurang Oso Duo Puluah', atau disebut 19 negeri atau koto. Dari sekian banyak koto tersebut, koto Sentajo merupakan permukiman yang masih mempertahankan secara lengkap adat kebudayaan dengan adanya organisasi adat yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Koto Sentajo menjadi fenomena yang menarik karena terletak di pinggir sungai Kuantan yang berada dalam perbatasan budaya antara Melayu dan Minangkabau. 

Rumah godang merupakan salah satunya atribut yang berada di dalam sebuah kotoRumah godang merupakan identitas yang sangat kuat dari suatu masyarakat, baik dari segi transisi budaya maupun dengan keberadaannya. Fenomena ini perlu dikaji dikarenakan terdapat irisan kebudayaan dan kemiripan nama dan istilah, baik secara bentuk, maupun secara konsep spasialnya. Masyarakat Sentajo melakukan upaya pembangunan rumah godang dengan melaksanakan aturan adat yang mereka miliki. Penelitian ini melihat bagaimana aktivitas masyarakat kanagorian Sentajo yang terlaksana melalui setting fisik pada permukiman dan rumah godang di koto Sentajo. Penelitian ini juga akan melihat konsep budaya berhuni rumah godang beserta proses pembangunannya yang dilakukan melalui tradisi lokal. 

Proses penelitian ini dimulai dengan menangkap berbagai fenomena terkait cara masyarakat koto Sentajo membangun dan menghayati rumah godang. Seluruh temuan kemudian dianalisis melalui pendekatan fenomenologi transendental untuk menyingkap makna terdalam dari pengalaman berhuni tersebut. Melalui proses epoché, reduksi fenomenologi, refleksi intensional, dan interpretasi esensial, penelitian ini menyusun kerangka pemaknaan yang merepresentasikan kesadaran transenden masyarakat, sehingga esensi nilai dan makna yang mereka hidupi dapat terungkap secara lebih kuat dan jernih.

Temuan penelitian ini berupa deskripsi akan seluruh kegiatan atau aktivitas yang berlaku di koto Sentajo beserta tempat terjadinya aktivitas tersebut. Aktivitas tersebut merupakan kebudayaan masyarakat Kanagorian Sentajo baik secara tangible maupun intangible yang tertuang menjadi aktivitas kehidupan sehari-hari, aktivitas musiman, aktivitas tahunan maupun aktivitas adat yang bersifat insidensial. Seluruh aktivitas tersebut dipetakan ke dalam peta-peta kebudayaan yang terintegrasi dalam setingan fisik. Penelitian ini juga mengungkap tiga konsep utama dalam budaya berhuni masyarakat Sentajo yaitu—pisoko tinggi (nagori tuo atau koto), halaka (sumber daya alam), dan undang duo puluah atau tarotiak (aturan adat)—yang menjadi landasan filosofi keberlanjutan budaya dan fisik rumah godang yang ada di Kanagorian Sentajo. 

Melalui pendekatan fenomenologi transendental, penelitian ini menghasilkan teori Tiang Tuo yang mencerminkan kesadaran transenden masyarakat Sentajo dalam kebersamaan menjaga keberlanjutan ruang, alam, dan adat sebagai dasar pelestarian budaya dan rumah godang. Teori Tiang Tuo menjelaskan bahwa tiang utama dalam rumah godang merupakan simbol kesadaran transenden yang menyatukan dimensi sosial, kultural, dan spiritual dalam budaya berhuni berbasis adat matrilineal. Teori Tiang Tuo bersifat kebaruan dan melengkapi penelitian sebelumnya, menunjukkan ideologi kehidupan mereka dalam mempertahankan rumah godang.

Koto is a residential landscape in a hilly area along the Kuantan River, serving as the center of government and home to traditional leaders. There are several koto along the Kuantan River called 'Negeri (nan) Kurang Oso Duo Puluah', or '19 countries 'or '19 koto'. Of the many kotoKoto Sentajo is a settlement that still completely maintains its cultural customs, with customary organizations that regulate all aspects of life. Koto Sentajo is an interesting phenomenon because it is located on the bank of the Kuantan River, which lies within the cultural border between the Malays and the Minangkabau. 

Rumah godang is one of the attributes of a kotoRumah godang refers to a strong sense of identity within a society, both in terms of cultural transition and its existence. This phenomenon needs to be studied because there are both cultural wedges and similarities in names and terms, in both form and spatial concepts. The people of Sentajo built rumahgodang in accordance with their customary rules. This study examined how the activities of the Kanagorian Sentajo community were carried out through the physical settings of settlements and rumah godang in Koto Sentajo village. This research also sought the culture associated with rumah godang and the process of its construction, which was carried out through local traditions. 

The study began by documenting various phenomena related to how the people of Koto Sentajo built and lived in the rumah godang. All findings were then analyzed through a transcendental phenomenological approach to uncover the most profound meaning of the inhabited experience. Through the processes of epoché, phenomenological reduction, intentional reflection, and essential interpretation, this study developed a framework of meaning that represents the transcendent consciousness of society, so that the essence of the values and meanings they live by can be revealed more clearly.

The findings of this study are presented by a description of all activities that happen in Koto Sentajo, as well as the place where these activities occur. These activities represent the culture of the Kanagorian Sentajo community, both tangible and intangible, and are reflected in daily life, seasonal, annual, and incidental traditional activities. All these activities are mapped onto cultural maps integrated into a physical setting. This study also reveals three main concepts in the culture of the Sentajo people, namely—pisoko tinggi (nagori tuo or koto), halaka (natural resources), and undang duo puluah or tarotiak (customary rules)—which become the foundation of the philosophy of cultural and physical sustainability of rumah godang in Kanagorian Sentajo. 

Through a transcendental-phenomenological approach, this study developed the Tiang Tuo theory, which reflects the transcendent awareness of the Sentajo people in jointly maintaining the sustainability of space, nature, and customs as the basis for preserving culture and rumah godang. The Tiang Tuo theory holds that the main pillar in a rumah godang symbolizes transcendent consciousness that unites the social, cultural, and spiritual dimensions in a culture based on matrilineal customs. The Tiang Tuo theory is novel and complements previous research, showing the ideology of their life in defending the rumah godang.

Kata Kunci : Tiang Tuo, Phenomenology, Koto, Transcendent Consciousness, Rumah Godang

  1. S3-2026-484364-abstract.pdf  
  2. S3-2026-484364-bibliography.pdf  
  3. S3-2026-484364-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2026-484364-title.pdf