Laporkan Masalah

Perkembangan Usaha Batik Maranatha Ong's Art, Lasem, 1990-2020

Vira Rihana Widyastuti, Dr. Abdul Wahid, M.Hum., M.Phil.

2026 | Tesis | S2 Sejarah

Penelitian ini mengkaji sejarah usaha batik Maranatha Ong’s Art dalam kurun waktu 1990 hingga 2020. Fokus utama penelitian ini adalah strategi yang diterapkan oleh Naomi Susilowati Setiono dan Priscilla Renny dalam mempertahankan otentisitas produksi Batik Tiga Negeri sebagai warisan usaha yang telah berjalan lima generasi. Dengan menggunakan metode penelitian sejarah, kajian ini memanfaatkan sumber primer seperti arsip tekstual maupun visual, serta literatur sezaman seperti koran dan majalah. Selain itu juga menggunakan sumber lisan yang diperoleh melalui wawancara dengan pelaku sejarah. Secara konseptual penelitian ini menggunakan “bisnis keluarga” sebagai pisau analisis untuk memotret proses suksesi serta pewarisan nilai-nilai keluarga dalam proses produksi secara turn-temurun.  

Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa industri batik Lasem secara historis didominasi oleh pengusaha Tionghoa, meskipun jumlahnya kian menyusut.  Maranatha merupakan satu dari sedikit usaha batik milik pengusaha Tionghoa yang masih bertahan. Usaha yang dirintis oleh Ong Jok Thai ini awalnya beroprasi tanpa nama resmi, hingga akhirnya Naomi Susilowati Setiono mematenkan merek Maranatha. Mengikuti jejak pendahulunya, Naomi tetap konisten memproduksi batik Tiga Negeri dengan mereproduksi motif-motif kuno. Lewat berbagai pameran, Naomi berhasil memperluas jaringan pemasaran Maranatha. Estafet kepemimpinan berlanjut ke tangan Priscilla Renny, yang mendalami teknik pewarnaan keluarga melalui buku resep peninggalan ibunya. Selama mengelola Maranatha, Renny melakukan perbaikan di segala lini, mulai dari keuangan, pemasaran, produksi, hingga sumber daya manusia. Upaya ini menghasilkan  peningkatan kualitas produk dengan ciri khas motif yang lebih halus, rapi dan detail, sehingga mendapat pengakuan nasional. Meski demikian, Maranatha menghadapi tantangan serius berupa krisis tenaga kerja dan perlindungan terhadap motif batiknya.  

Penelitian ini menyimpulkan bahwa usaha batik Maranatha Ong’s Art berkembang berkat kemampuan Naomi Susilowati Setiono dan Priscilla Renny dalam menjaga konsistensi penerapan pengetahuan, nilai dan tradisi warisan generasi sebelumnya, sembari menyeimbangkannya dengan inovasi produk yang diminati pasar. Namun, proses suksesi yang tidak terstruktur menciptakan kerentanan terhadap keberlangsungan usaha ini.  

This research examines the history of Maranatha Ong's Art Lasem batik business from 1990 to 2020. The main focus of this research is the strategy implemented by Naomi Susilowati Setiono and Priscilla Renny in maintaining the authenticity of Batik Tiga Negeri production as a business legacy that has been running for five generations. Using historical research methods, this study employs primary sources, including textual and visual archives, and contemporary literature such as newspapers and magazines. It also employs oral sources obtained through interviews with historical actors. Conceptually, this study employs the concept of “family business” as an analytical tool to capture the process of succession and the transmission of family values in the production process from one generation to the next.  

The findings of this study indicate that the Lasem batik industry has historically been dominated by Chinese entrepreneurs, although their numbers are dwindling. Maranatha is one of the few batik businesses owned by Chinese entrepreneurs that still survive. Pioneered by Ong Jok Thai, the business initially operated without an official name until Naomi Susilowati Setiono patented the Maranatha brand. Following in her predecessor's footsteps, Naomi consistently produced Batik Tiga Negeri, reproducing ancient motifs. Through various exhibitions, Naomi successfully expanded Maranatha's marketing network. The leadership then passed to Priscilla Renny, who learned the family dyeing technique through her mother's recipe book. During her time managing Maranatha, Renny made improvements across all sectors, from finance and marketing to production and human resources. These efforts resulted in improved product quality, characterized by finer, neater, and more detailed motifs, which have received national recognition. However, Maranatha faced serious challenges in the form of a labor crisis and copyright issues for its batik motifs. 

This study concludes that Maranatha Ong’s Art batik business thrives due to the ability of Naomi Susilowati Setiono and Priscilla Renny to consistently apply the knowledge, values, and tradition inherited from previous generations, while balancing this with product innovations that meet market demand. However, the unstructured succession process creates vulnerabilities to the business's sustainability. 

Kata Kunci : usaha batik, Maranatha Ong’s Art, bisnis keluarga, suksesi, Naomi Susilowati Setiono, Priscilla Renny

  1. S2-2026-489538-abstract.pdf  
  2. S2-2026-489538-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-489538-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-489538-title.pdf