Laporkan Masalah

REPRESENTASI TOXIC MASCULINITY Studi Tentang Hubungan Ayah Dan Anak Laki-Laki Pertama Dalam Film “NANTI KITA CERITA TENTANG HARI INI”

Alya Rahma, Dr. Suharman M.Si

2026 | Skripsi | Sosiologi

Penelitian ini membahas representasi toxic masculinity dalam hubungan ayah dan anak laki-laki pertama dalam film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI). Latar belakang penelitian ini adalah kuatnya budaya patriarki dalam keluarga yang membentuk tuntutan maskulinitas berlebihan pada laki-laki. Masalah penelitian berfokus pada bagaimana toxic masculinity ditampilkan melalui hubungan ayah (Narendra) pada tahap untuk mendidik anak laki-laki pertama (Angkasa). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis semiotika Roland Barthes untuk mengkaji tanda, makna, dan mitos yang hadir dalam  adegan-adegan terpilih pada film. Hasil penelitian menunjukkan bahwa toxic masculinity hadir melalui sosialisasi primer, berupa kontrol ayah yang dominan, pendisiplinan keras, penekanan emosi, serta pembebanan tanggung jawab berlebihan kepada anak laki-laki pertama, yakni dengan berusaha memperingatkan Angkasa bahwa tugas yang paling penting dari seorang kakak laki-laki adalah untuk menjaga adik-adiknya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa film NKCTHI tidak hanya menampilkan konflik keluarga, tetapi juga mengkritik normalisasi maskulinitas yang menekan dan berpotensi diwariskan melalui institusi keluarga.

This study examines the representation of toxic masculinity in the relationship between a father and his firstborn son in the film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI). The background of this research lies in the strong patriarchal culture within families that shapes excessive masculine expectations placed on men. The research problem focuses on how toxic masculinity is portrayed through the father–son relationship, particularly in the father’s (Narendra) approach to educating his firstborn son (Angkasa). This study employs a qualitative method using Roland Barthes’ semiotic analysis to examine signs, meanings, and myths presented in selected scenes of the film. The findings indicate that toxic masculinity emerges through primary socialization in the form of dominant paternal control, harsh discipline, emotional repression, and the imposition of excessive responsibility on the firstborn son, especially by emphasizing that a male eldest child’s primary duty is to protect and take care of his younger siblings. This study concludes that NKCTHI not only portrays family conflict but also critiques the normalization of oppressive masculinity that has the potential to be reproduced through the family institution.

Kata Kunci : toxic masculinity, patriarchy, family, representation, primary socialization, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini

  1. S1-2026-502570-abstract.pdf  
  2. S1-2026-502570-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-502570-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-502570-title.pdf