Analisis Wacana Kritis Praktik Mikroagresi dalam Film 8 Rue de l’Humanité (2021)
Syakhsiyya Ilma, Dr. Aprillia Firmonasari, S.S., M.Hum., DEA.
2026 | Skripsi | SASTRA PERANCISPeningkatan aksesibilitas terhadap informasi menghasilkan masyarakat yang lebih peka terhadap isu sosial. Praktik diskriminatif tidak lagi dilakukan secara terang-terangan, melainkan dalam bentuk yang lebih halus atau biasa disebut dengan mikroagresi. Realitas sosial ini tercerminkan dalam media massa, termasuk film. Seperti dalam film 8 Rue de l'Humanité (2021) yang bercerita tentang para penghuni sebuah apartemen saat pandemi COVID-19. Dengan menggunakan teori analisis wacana kritis milik Teun A. van Dijk, ditemukan empat belas mikroagresi yang terselip di dalam narasi dan interaksi tokoh. Praktiknya mencakup penggunaan sebutan yang merendahkan, penyangkalan akan identitas, penolakan terhadap informasi, dll. melalui diksi nomina, pronomina, adverbia, dll. Selain itu, mikroagresi dipengaruhi oleh relasi kuasa antartokoh. Tokoh dengan identitas kelompok dominan lebih mungkin menjadi pelaku, sedangkan tokoh dengan identitas marginal lebih rentan menjadi korban. Di samping itu, fenomena sosial pandemi COVID-19 memposisikan kelompok usia berumur dan orang Asia sebagai target dalam praktik mikroagresi.
Increased access to information has made society more aware of social issues. Discriminatory practices are no longer expressed overtly, but instead manifest in more subtle forms, commonly known as microaggressions. This social reality is reflected in mass media, including film. One example is 8 Rue de l’Humanité (2021), which portrays the lives of residents in an apartment building during the COVID-19 pandemic. Using Teun A. van Dijk’s critical discourse analysis, fourteen microaggressions were identified in the narrative and interactions between characters. These practices include the use of derogatory terms, denial of identity, rejection of information, etc. through nouns, pronouns, adverbs, etc. Furthermore, microaggressions are also influenced by power relations among characters. Those from dominant social groups are more likely to be perpetrators, while characters with marginalized identities are more vulnerable as targets. Additionally, the social context of the COVID-19 pandemic positions older people and Asians as targets of microaggressive practices.
Kata Kunci : mikroagresi, kajian film, analisis wacana kritis, relasi kuasa