Between Grieving and Start Loving: Roland Barthes’ Semiotic Analysis on Representation of Widow’s Grief in the Film Jatuh Cinta Seperti Di Film-Film (2023)
Kirani Nur Mardatilla, Dr. Novi Kurnia, M.Si., M.A.
2026 | Skripsi | Ilmu Komunikasi
Di Indonesia, diskusi mengenai janda dan emosi duka yang kompleks masih dianggap tabu, terutama terkait kedukaan janda. Di sinilah media massa, khususnya film, berperan. Film seringkali berfungsi sebagai jendela melihat realita, memungkinkan orang-orang yang menonton untuk memproses dan merefleksikan pengalaman mereka sendiri. Sayangnya, film-film Indonesia masih sering kali terjebak dalam menggambarkan janda melalui lensa negatif, sejalan dengan stigmatisasi dan perspektif yang terbatas. Penting bagi manusia sebagai mahluk sosial untuk mengembangkan koneksi emosional yang dapat menumbuhkan pemahaman, guna mendukung pembangunan dinamika yang lebih baik dalam masyarakat mengenai interaksi dengan kelompok rentan, oleh karena itu, representasi, dalam hal ini, melalui elemen audiovisual dalam film, penting untuk dibahas sehingga bisa memicu lebih banyak diskusi dan pemahaman tentang duka seorang janda. Penelitian ini menganalisis bagaimana film Indonesia Jatuh Cinta Seperti Di Film-Film (2023), yang menampilkan tokoh utama perempuan yang menggambarkan pengalaman seorang janda dalam berduka setelah kehilangan pasangannya, diinterpretasikan melalui pendekatan semiotika Roland Barthes, mengkaji aspek verbal dan non-verbal dalam film tersebut. Analisis semiotika Barthes diterapkan pada delapan adegan terpilih dari film tersebut, yang meneliti denotasi, konotasi, dan aspek mitos dari setiap adegan. Analisis tersebut kemudian mendorong eksplorasi bagaimana film tersebut merepresentasikan duka seorang janda secara khusus melalui dialog, bahasa tubuh, dan warna layar. Bersamaan dengan pemahaman temuan tentang bagaimana karakter janda tersebut menunjukkan perilaku dengan Avoidant Attachment Style dan Anxiety atau kecemasan dalam komunikasinya, sebagai perilaku yang dimotivasi oleh keadaan kognitif dan psikologis pada masa berduka, yang juga terkait dengan ide dan stigmatisasi yang telah lama ada terhadap janda dalam masyarakat Indonesia.
In Indonesia, discussion regarding widowhood and complex grief emotions is still considered taboo, particularly concerning both matters, widow’s grief. This is where mass media, especially film, come into play. Films often serve as a window into reality, providing viewers with a way to process and reflect on their own experiences. Unfortunately, Indonesian films are still stuck with picturing widows through a negative lens, aligning with the stigmatization and a limited perspective. It is important for individuals to develop an emotional connection to foster empathy and understanding, which can support building a better dynamic within society regarding interactions with vulnerable groups, therefore, representation, in this case, through audiovisual elements in film, is essential to spark more discussion and understanding about a widow’s grief. This study analyzed how the Indonesian film Jatuh Cinta Seperti Di Film-Film (2023), featuring a main female character who portrays a widow’s experience in grieving after the loss of her partner, interpreted through Roland Barthes’ semiotic approach, which covers both verbal and non-verbal aspects in the film. Barthes’ semiotics analysis applied to the eight selected scenes from the film, which examine the denotation, connotation, and mythological layers of each scene. The analysis then prompted the exploration of how the film represents a widow’s grief specifically through dialogue, body language, and screen color. Along with the comprehension of findings on how the character of the widow displays avoidant attachment style and anxiety in their communication, as behavior that is motivated by the cognitive and psychological state in the grieving period, which is also associated with the long-standing ideation and stigmatization towards widows within Indonesian society.
Kata Kunci : Widowhood, Complicated grief, Widow’s grief, Jatuh Cinta Seperti Di Film-Film, Semiotic Roland Barthes