Laporkan Masalah

DAMPAK FILM “ADA APA DENGAN CINTA 2” TERHADAP PERUBAHAN MATA PENCAHARIAN MASYARAKAT DI PUNTHUK SETUMBU, BOROBUDUR

Ratukhandayu Amarilis Rassya, Dr. Mohamad Yusuf, M.A.,

2026 | Skripsi | PARIWISATA

Perubahan penghidupan masyarakat pedesaan berkembang secara cepat di Desa Karangrejo setelah Punthuk Setumbu mendapatkan perhatian nasional melalui kemunculannya dalam film Ada Apa dengan Cinta? 2 (AADC 2). Meningkatnya popularitas lokasi tersebut memicu lonjakan jumlah wisatawan dan mengubah orientasi ekonomi desa dari sektor pertanian menuju jasa pariwisata. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui wawancara, observasi, dan analisis dokumen, penelitian ini menelusuri bagaimana perubahan tersebut berlangsung, bentuk-bentuk diversifikasi penghidupan yang muncul, serta faktor-faktor yang mendorong warga beralih ke sektor pariwisata. Temuan menunjukkan bahwa peluang pendapatan dari jasa pemanduan, homestay, kuliner, transportasi, dan fotografi menawarkan pemasukan yang lebih stabil dan cepat dibandingkan pertanian musiman, terutama dengan dukungan Pokdarwis dan BUMDes. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa eksposur film memperkuat citra destinasi dan semakin mengintegrasikan Karangrejo ke dalam jaringan pariwisata Borobudur. Respons adaptif masyarakat, disertai peningkatan amenitas dan aksesibilitas, mempercepat transformasi desa menjadi destinasi pariwisata berbasis komunitas. Motif ekonomi, pengaruh sosial, dan dukungan kelembagaan semuanya berperan dalam pergeseran dari ketergantungan agraris. Secara keseluruhan, pariwisata berbasis film bertindak sebagai katalis perubahan sosial- ekonomi, meskipun pengelolaan yang berkelanjutan dan strategi diversifikasi pendapatan tetap diperlukan demi ketahanan jangka panjang

Rapid changes in rural livelihoods emerged in Karangrejo Village after Punthuk Setumbu gained national attention following its appearance in Ada Apa dengan Cinta? 2 (AADC 2). The growing popularity of the site triggered a surge in tourist arrivals and reshaped the village’s economic orientation from agriculture toward tourism-based services. Using a descriptive qualitative research method through interviews, observation, and document analysis, this study explores how these changes took place, the forms of livelihood diversification that emerged, and the factors that encouraged residents to switch to the tourism sector. Findings reveal that income opportunities from guiding services, homestays, culinary stalls, transportation, and photography offered more stable and immediate returns compared to seasonal farming, especially with support from Pokdarwis and BUMDes. Further analysis shows that film exposure strengthened the destination’s image and integrated Karangrejo more firmly into the Borobudur tourism network The community’s adaptive response, combined with improvements in amenities and accessibility, accelerated its transformation into a community-based tourism village. Economic motives, social influence, and institutional facilitation all contributed to the shift away from agrarian dependence. Overall, film-induced tourism acted as a catalyst for socio-economic change, though sustainable management and diversified income strategies remain essential for long-term resilience.

Kata Kunci : Desa Karangrejo, pariwisata berbasis film, pariwisata berbasis komunitas, punthuk setumbu, transformasi penghidupan.

  1. S1-2026-505333-abstract.pdf  
  2. S1-2026-505333-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-505333-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-505333-title.pdf