Laporkan Masalah

Persepsi Generasi Z Terhadap Pemberitaan Situs Gunung Padang di Media Sosial: Kajian Arkeologi Publik

Egy Rachma Zulvita, Dr. Tjahjono Prasodjo, M.A.

2026 | Skripsi | ARKEOLOGI

Sebagai digital natives, internet dan media sosial menjadi bagian penting dalam kehidupan Generasi Z. Adanya kemudahan akses, anonimitas, dan jaringan tanpa batas menjadikan media sosial digunakan oleh Generasi Z untuk berbagai kebutuhan, termasuk dalam pencarian informasi. Namun, hal tersebut juga mengakibatkan adanya pengaburan akan validitas informasi yang menyebabkan misinterpretasi data, termasuk kajian arkeologi. 

Situs Gunung Padang adalah salah satu objek arkeologi yang diberitakan di media sosial. Sebagai objek arkeologi yang kontroversial, media sosial menjadikannya konten dalam berbagai bahasan. Hal tersebut menimbulkan keberagaman persepsi di kalangan Generasi Z. Dalam memahaminya, penelitian ini menggunakan metode campuran (mixed-methods) penekanan QUAN ? QUAL, yang berarti analisis temuan dilakukan secara statistik deskriptif dan inferensial dengan penguatan data dari analisis tematik kualitatif. Adapun teknik pengambilan data melalui survei kuisioner yang disebarkan secara daring di media sosial. 

Dari penelitian, terdapat tiga faktor yang menimbulkan berbagai persepsi Generasi Z terhadap isu Situs Gunung Padang di media sosial. Ketiga faktor tersebut yaitu, internal (motivasi diri), eksternal (pengaruh influencer), serta struktur konten media sosial. Melalui pemrosesan informasi dari Kaplan (1989), variabel Koherensi, Legibility, dan Misteri memiliki persepsi yang baik dibandingkan dengan Kompleksitas. Hal ini menunjukkan bahwa informasi media sosial yang digemari oleh Generasi Z cenderung dikemas dengan alur yang sama, bahasa yang mudah dipahami, dan bersifat persuasif. Sebaliknya, informasi media sosial yang terlalu rumit dan menimbulkan kebingungan cenderung dihindari. Dengan demikian, strategi komunikasi arkeologi publik dengan mengimplementasikan citra yang dipersepsikan dapat digunakan untuk menyebarluaskan informasi, juga membendung penyebaran pseudoarkeologi di masyarakat.

As digital natives, the internet and social media are integral components of Generation Z’s lives. While offering ease of access and networking, this reliance also carries the inherent risk of information inaccuracy and misinterpretation, which can obscure validity, especially in archaeological discourse. The controversy of the Gunung Padang site is a prominent example of this, as its widespread coverage on social media has resulted in a diverse range of perceptions among Generation Z.

The research employs a mixed-methods with QUAN ? QUAL design, utilizing both descriptive and inferential statistical analysis alongside thematic qualitative analysis. Data was collected by an online questionnaire survey on social media platforms. The study identifies three factors that shape Generation Z’s perceptions of the Gunung Padang issue: internal (self-motivation or behavior), external (influencer credibility), and the information structure of social media. According to Kaplan’s information processing theory, variables like Coherence, Legibility, and Mystery generally received higher perception scores compared to Complexity. These results show that social media information tends to be packaged with a consistent flow, accessible language, and a persuasive tone. On the other hand, the complexity of social media information causes confusion, which tend to be avoided by audience.

Consequently, this research proposes practical communication strategies for public archaeology. By capitalizing on the perceived image of archaeology, practitioners can effectively disseminate scientific information and mitigate the spread of pseudoarchaeology in the public sphere, especially on social media.

Kata Kunci : persepsi, generasi z, gunung padang, media sosial

  1. S1-2026-479443-abstract.pdf  
  2. S1-2026-479443-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-479443-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-479443-title.pdf