Laporkan Masalah

Variasi Bahasa Humor pada Dhagelan Jawa Timur Dialek Mataraman

Riris Purbosari, Prof. Dr. Suhandano, M.A.

2025 | Tesis | S2 Linguistik

Humor sebagai hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat dapat disampaikan melalui kreativitas berbahasa. Penelitian ini mengkaji variasi bahasa humor pada dhagelan Jawa Timur dialek Mataraman. Penelitian ini menjelaskan wujud variasi bahasa humor, penggunaan variasi bahasa untuk menciptakan humor, dan aspek yang menjadikan variasi bahasa humor dapat memunculkan kelucuan. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiopragmatik. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dhagelan menggunakan beragam variasi bahasa untuk membangun humor. Variasi bahasa meliputi variasi kode bahasa, ragam bahasa, serta campur kode dan alih kode. Kode bahasa yang digunakan meliputi (1) bahasa Jawa yang terdiri atas dialek Mataraman, dialek Jawa Timur, dan dialek ngapak dengan undha usuk ‘tingkat tutur’ yang terdiri atas ngoko dan krama, (2) bahasa Indonesia, (3) bahasa Inggris, (4) bahasa Arab, (5) bahasa Sunda, dan (6) bahasa Cina. Ragam bahasa yang digunakan meliputi ragam bahasa resmi, ragam bahasa tidak resmi (kolokial, vulgar, dan slang), dan ragam bahasa sastra. Campur kode meliputi campur kode ke dalam dan campur kode ke luar. Alih kode meliputi alih kode intern dan alih kode ekstern.

Terdapat enam belas cara penggunaan variasi bahasa untuk menciptakan humor. Enam belas cara tersebut adalah (1) pemanfaatan ketaksaan, (2) permainan metafora, (3) permainan analogi, (4) pemaknaan dengan othak-athik mathuk, (5) permainan bunyi, (6) membuat singkatan, (7) membuat cangkriman, (8) membuat parikan, (9) penggunaan purwakanthi, (10) menyebutkan nama-nama, (11) membuat kekontrasan, (12) repetisi, (13) mengubah lirik lagu, (14) penerjemahan kreatif, (15) melebih-lebihkan, dan (16) peniruan bahasa Cina. Berbagai cara itu menunjukkan kreativitas dhagelan dalam berbahasa untuk menciptakan humor.

Munculnya kelucuan humor dapat dianalisis melalui beberapa aspek yang membentuk kelucuan pada humor. Aspek tersebut meliputi (1) penyimpangan prinsip kerja sama, (2) penyimpangan prinsip kesantunan, dan (3) presuposisi sebagai aspek pembentuk kelucuan. Penyimpangan terhadap prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan terjadi ketika tuturan dhagelan menyimpang dari prinsip yang mengatur kelancaran dan keharmonisan dalam komunikasi. Penyimpangan tersebut justru memunculkan kelucuan. Presuposisi berkaitan dengan adanya kesamaan pemahaman budaya maupun pengetahuan bersama yang menjadikan humor dapat dipahami sebagai sesuatu yang lucu. Ketiga aspek tersebut menjadi dasar munculnya kelucuan pada variasi bahasa humor dhagelan Jawa Timur dialek Mataraman. Dengan demikian, penelitian ini juga menunjukkan bahwa antara bahasa, humor, dan identitas budaya saling terkait dan membentuk pertunjukan humor yang khas dan menghibur. 

Humor is an inseparable aspect of social life and can be expressed through linguistic creativity. This study explores language variations of humor spoken by East Javanese dhagelan with the Mataraman dialect. It describes the forms of language variations in humor, the use of language variations to create humor, and the aspects that enable humor to evoke amusement. The study uses a sociopragmatic approach and applies qualitative descriptive methods.

The findings show that dhagelan employs a range of language variations to construct humor. Language variations include code variations, style variations, as well as code-mixing and code-switching. The codes used include (1) Javanese, consisting of the Mataraman dialect, the East Javanese dialect, and the ngapak dialect with the undha usuk ‘speech levels’ (ngoko and krama), (2) Indonesian, (3) English, (4) Arabic, (5) Sundanese, and (6) Chinese. Language styles include formal, informal (colloquial, vulgar, and slang), and literary styles. Code-mixing includes internal and external mixing. Code-switching includes internal and external switching.

There are sixteen ways in which language variations are used to create humor. These include the (1) use of ambiguity, (2) metaphorical play, (3) analogical play, (4) meaning-making with othak-athik mathuk, (5) sound play, (6) creating abbreviation, (7) creating cangkriman ‘riddle’, (8) creating parikan, (9) use of purwakanthi, (10) mentioning names, (11) creating contrast, (12) repetition, (13) song lyric alteration, (14) creative translation, (15) exaggeration, and (16) imitation of Chinese. These strategies demonstrate the linguistic creativity of dhagelan in producing humor.

The emergence of humor can be analyzed through several aspects that constitute humorous effects. These aspects include (1) violation of the cooperative principle, (2) violation of politeness principles, and (3) presupposition as a contributing factor of humor. Violations of the cooperative and politeness principles occur when dhagelan produces utterances that deviate from principles that regulate effective and harmonious communication. These deviations, instead, generate humorous effects. Presupposition relates to shared cultural understanding and common knowledge that enable humor to be interpreted as amusing. These aspects form the basis of the humorous effects found in the language variations of humor spoken by East Javanese dhagelan with the Mataraman dialect. Thus, this study demonstrates that language, humor, and cultural identity are interconnected and collectively shape a distinctive and entertaining form of humorous performance.

Kata Kunci : Humor, Variasi Bahasa, Dhagelan, Sosiopragmatik, Budaya Jawa

  1. S2-2025-514805-abstract.pdf  
  2. S2-2025-514805-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-514805-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-514805-title.pdf