Makna Tari Klasik Gaya Yogyakarta bagi Diri dan Identitas (Self and Identity) Remaja dan Anak Muda Studi Siswa Among Beksa Yogyakarta
Asa Rizka Nur Annisa, Nurul Aini, S.Sos., M.Phil.
2025 | Skripsi | Sosiologi
Seni tradisional seperti Tari Klasik Gaya Yogyakarta
mengalami tantangan penurunan minat generasi muda di era modern. Selain itu, di
era modern generasi muda cenderung tidak memahami nilai filosofisnya dan
menganggap sekedar tontonan wisata atau produk konsumsi publik. Fenomena ini
melatarbelakangi penelitian tentang makna Tari Klasik Gaya Yogyakarta bagi
pembentukan diri dan identitas remaja dan anak muda di Paguyuban Siswa Among
Beksa (SAB) yang menjadi tempat menegosiasikan antara tradisi dan modernisasi.
Persoalan ini meliputi alasan minat remaja dan anak muda belajar tari ini,
persepsi mereka terhadap seni tradisional dalam konteks sosial-budaya, serta
kontribusi aktivitas di Siswa Among Beksa terhadap pembentukan diri dan
identitas mereka. Metode penelitian ini menggunakan kualitatif dengan
pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan
wawancara dengan informan yang terdiri dari ketua paguyuban ini, pengajar dan
siswa di Siswa Among Beksa. Analisis data ini menggunakan kerangka teori diri
dan identitas dari Erikson dan Leary dan Tangney, serta teori identitas sosial
dari Jenkins. Temuan menunjukkan bahwa minat remaja dan anak muda dipengaruhi
oleh faktor internal seperti ketertarikan pribadi dan keinginan melestarikan
budaya serta faktor eksternal seperti keluarga dan lingkungan sosial. Tari
Klasik gaya Yogyakarta dipahami sebagai warisan budaya yang turut membentuk
identitas mereka yang beragam dan tidak tunggal. Dalam aktivitas di Siswa Among
Beksa berkontribusi juga pembentukan diri melalui proses sosialisasi,
internalisasi nilai, dan pengembangan keterampilan. Penelitian ini menemukan
bahwa identitas terbentuk bersifat hybrid, seni tradisional sebagai pijakan di
era modern sebagai bentuk negosiasi diri dalam menghadapi pengaruh arus
globalisasi. Hasil ini memberikan kontribusi penting bagi remaja dan anak muda
bahwa seni tradisional sebagai alat dalam proses pembentukan diri dan identitas
di era modern.
Kata kunci:
Diri dan Identitas, Identitas Hibrida, Remaja dan Anak Muda, Siswa Among Beksa,
Tari Klasik Gaya Yogyakarta
Traditional arts such as classical Yogyakarta-style
dance face declining interest among youth generations in the modern era.
Additionally, in the modern era youth often fail to grasp its philosophical
value and perceiving it merely as tourist entertainment or a product for public
consumption. This phenomenon underpins research on the meaning of classical
Yogyakarta-style dance for self and identity formation among adolescents and
youth at the Siswa Among Beksa (SAB) a space negotiating between tradition and
modernization. The study includes the reasons for adolescents and youth interest
in learning this dance, their perceptions of traditional arts in socio-cultural
contexts, and the contribution of activities at Siswa Among Beksa to their
self-formation and identity. This research method a qualitative approach with a
phenomenological approach. Data collection was conducted through observation
and interviews with informants consisting of the community leader, teachers,
and students at Siswa Among Beksa. Data analysis uses the framework of self and
identity theories from Erikson and Leary and Tangney, as well as social
identity theory from Jenkins. The findings show that the interest of
adolescents and youth is influenced by internal factors such as personal
interest and desire to preserve culture, as well as external factors such as
family and social environment. Classical Yogyakarta-style dance is understood
as a cultural heritage that contributes from their diverse and non-singular identity.
Activities at Siswa Among Beksa Also contribute to self-formation through
socialization processes, value internalization, and skills development. This
research finds that identity formation is hybrid in nature, with traditional
arts serving as a foundation in the modern era as a form of self-negotiation in
facing the influences of globalization. These results provide an important
contribution to adolescence and youth that traditionally arts can be a tool in
the process of self-formation and identity in the modern era.
Keywords:
Self and Identity, Hybrid Identity, Adolescents and Youth, Siswa Among Beksa,
Yogyakarta Classical Dance
Kata Kunci : Diri dan Identitas, Identitas Hibrida, Remaja dan Anak Muda, Siswa Among Beksa, Tari Klasik Gaya Yogyakarta